2. Efek merusak mata.
3. Efek Radiasi Gadget pada Anak.
4. Bisa jadi Anak Kejatuhan Gadget pada saat menyusui.
I want to share about a breastfeeding, baby, pregnant.. i love to be a mom's for my little baby.. if u have any question just ask me ok.. send by email nur_tadjoedin@yahoo.com
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman, 31:14)
Let down refleks...
Adalah pengeluaran asi secara spontan/reflex, yaitu pada saat ASI ngucur deras sewaktu diperah/ketika meyusui. Kalau kita tahu kuncinya LDR, memerah ASI bisa efektif dan efisien ...10 menit dapat 100cc lho!
LDR itu pada keluar pada menit2 tertentu...kadang lama kadang juga cepat. Kalau kita pintar merangsang LDR dengan efektif, maka LDR bisa dating lebih cepat. so, perah ASI jadi efisien.
Misalnya LDR pertama kita dapat 50 cc lalu LDR kedua dapet 50 cc lagi. LDR ketiga dan seterusnya biassanya hanya 20-30 cc tetapi di LDR ke-3 ini biasanya bentuk ASI lebih kental dibandingkan LDR ke-1 dan ke-2. Artinya… di LDR ke-3 ini kandungan hindmilk lebih banyak. Jadi kalau masih punya aktu untuk memerah dan payudara belum cape, lanjutkan. Hehe….
Jika frekuensinya perah kita sehari 4-5 kali jadwal perah... ini jg akan lebih mudah mendapatkan LDR... berbeda dengan yg jarang perah ^_^
Begitu juga untuk yang rajin memijat payudara & kompres panas dingin bergantian sehari 2 kali juga akan lebih mudah untuk mendapatkan LDR.
Dengan sering menyusui / menyusui setiap bayi mau ketika di rumah/tidak bekerja juga dapat merangsang kelarnya LDR….. sehingga ketika memerah bisa merangsang keluar LDR lebih cepat.
Jadi menurut saya, LDR tidak akan didapat secara instant... tetapi membutuhkan proses/latihan terus menerus, dan berkesinambungan.
Lalu bagaimana dengan kualitas ASInya? Kualitas asi yang diperah dengan frekuensi lebih tinggi akan meningkatkan produksi hindmilk (ASI tidak encer seperti jika jarang mmerah/mengosongkan payudara)
Bagi Work Mom, dengan memancing LDR maka waktu perah semakin singkat, sehingga tidak mengganggu pekerjaan. Selain itu juga dapat memberikan kesempatan tubuh untuk memperolah lebih banyak waktu luang untuk memproduksi ASI lagi sampai ke jadwal perah berikutnya.
Dengan menguasai teknik LDR berarti mengenai masalah perah-memerah asi yg mengganggu pekerjaan bisa terselesaika.
Kuncinya LDR ada di Putting dan aerola
Pertama yg harus dilakukan adalah membuat jadwal perah yg dengan frekuensi 4-5 kali sehari. ini sangat penting. Karena kalau jarang memerah, LDR nya jg sulit keluar.
caranya, sentuh puting dengan lembut dan buat gerakan melingkar. Gerakannya selembut mungkin ya, karena disitu banyak jaringan lunak sehingga gerakan kasar tidak bisa memancing LDR hehe… lalu dibawah aerola coba diraba sedikit... ada bagian yang “grenjel2” kan? lembut kaan? Hehe.. nah sentuh 2 jari telunjuk dan jari tengah, tekan sedikit... dan buat gerakan seperti lagi periksa grunjelan... usap2... sambil di goyang2 ke samping... ikuti gerakan payudara yang digoyang ajah (hadoh bukannya porno yaw… :D)
nggunyernya itu caranya puting ditekan sedikit pakai jari... lalu diusap2 agak diputer2 tapi jgn ditarik yaaaaaaaaa…….lakukan saja itu smua 1-2 menit biasanya payudara langsung terlihat lebih terisi lalu kalau sudah menetes2... nah itu LDR nya udah kluar. Horeeee…. :D
Dalam 1 kali sesi perah bisa saja terjadi 3-4 LDR jadi, perahnya ya saat LDR muncul...
Yang penting harus sabar dan fikiran harus tenang ya…. Datangnya LDRnya makin lama makin sulit terutama setelah LDR ke-3. Sabar..sabar.. hehe..
Dengan LDR hasil yang sama bisa diperoleh dalam waktu yang 2x lebih pendek. Jg bisa meminimalisir stress.
Kalau sudah lancar, biasanya 10 menit bisa dapat 100-120cc
Oya, kuncinya ada di ritme juga, tdak boleh buru2 tekanannya. Jadi, tekan… lepaskan... begitu terus... jangan tekan2 dalam jarak terlalu yg cepat. Mirip ritme detak jantung
Ketika sudah datang LDR... langsung kuras sedapatnya.... kemudian klo sudah habis... rangsang lagi.. ketika dapat LDR kuras lagi... begitu seterusnya…….
Bagaimana jjika memerah tetapi payudara kempes?? never worry...santai.... tinggal mainkan teknik LDRnya dan...nyuuuuut nyuuuut..... payudara terisi lagi deeeh.. dan ngucur lagi deehh... ya gitu deeeh… hehe.. :D
Oke ya mom... selamat berjuang. Sekali lg utk mendapatkan LDR ini butuh jam terbang. so...makin lama makin terampil aja dah…. selamat berlatih terus ya… ^_^
If your fully-breastfed baby shows two or more of the signs below then you most likely have enough milk.
Some other points to consider:
You and your baby work together to start the milk-making process and to maintain it at the right level to ensure it meets your baby's needs. If you are concerned that this may not be happening, you might like to check the following possible causes of low milk supply:
The secret to boosting your milk supply is to fit in more feeds than is usual for your baby. More frequent and efficient milk removal by a well attached baby means more milk will be made. More frequent feeding means more milk.
Human babies are designed to need frequent feeds and by offering the breast at least every two or so hours during the day (and usually at least one night feed), your milk supply can increase quickly. Feeds don't have to be at regular intervals, you might find that you can fit in an extra breastfeed at any time if baby is awake and happy to accept it, or offer a 'top-up' fairly soon after a feed. There are many more ideas in the booklet Increasing Your Supply or talk to an Australian Breastfeeding Association counsellor to discuss your situation.
Very occasionally, a mother tries the ideas above and still finds that her milk supply is low. If you think this is the case with you, speak to a health professional who has a special interest in breastfeeding, as you may be able to try some medication to maximise your milk supply.
If you have been advised to wean because of a persistent low milk supply, think about whether breastfeeding may be important for you and your baby for reasons that have nothing to do with providing all her food. It is possible to combine breast and artificial baby milk successfully for quite a long time. Don't be embarrassed because you don't wish to wean. As long as your baby is happy to suck, you are always providing some nutrition, health protection, as well as much comfort and reassurance for your child. If you want to continue, be reassured that you can still meet your baby's nutritional and emotional needs by breastfeeding.
All of these possibilities and the practical means to overcome them are discussed in the ABA booklet Increasing Your Supply. This booklet also discusses how to use complementary feeds if they are medically necessary, debunks many myths, explains good positioning, and how the breast makes milk. By learning these things, you will have the basis to make sense of any advice you receive, and to make the decisions that best suit you and your baby. After all, you are the expert on your baby!
http://www.breastfeeding.asn.au/bfinfo/lowsupply.html
Buruh dan ASI
Kemijem menunjukkan peralatan yang rutin ia bawa ke pabrik. Termos kecil dan botol-botol kecil berjajar rapi. Kemijem menjelaskan, botol-botol itu diberi nomor supaya tidak membingungkan. Satu botol berisi kira-kira 100 mililiter ASI. Dalam sehari biasanya ia memeras susu hingga 3 kali.
Botol-botol yang berisi ASI ini dimasukkan ke termos besar berisi es batu.
Kemijem adalah buruh pabrik tekstil di Rancaekek, Bandung, Jawa Barat. Sudah hampir 10 tahun dia menghadapi mesin pemintal kain. Hari-hari ini dia harus cuti panjang karena penyakit asmanya kambuh. Jika tak cuti, perempuan asal Sleman ini setiap hari bekerja di pabrik yang letaknya sekitar setengah jam dengan motor dari rumahnya.
Botol-Botol ASI dikasih nomer sesuai urutan waktu memerah
“Nggak ada dukungan dari keluarga, hanya bersama suami saja. Saya satu rumah sama kakak, dia nggak mendukung, “Sudah kasih saja susu formula.” Saya bilang nggak. Yang ngasuh juga bilang kasih susu formula. Saya bilang tidak, pokoknya harus ekslusif selama enam bulan.”
Keinginan Kemijem memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan kepada Rizky anaknya, bukan tanpa alasan. Anak pertamanya yang berjarak 11 tahun dengan si bungsu tak mendapatkan ASI secara penuh. Dulu ia tak punya banyak pengetahuan soal ASI.
“Jadi sebelum melahirkan saya sudah konsultasi ke dokter minta ASI eksklusif sama Inisiasi Menyusui Dini. Tapi kondisi yang lemah karena di-Caesar sempat pingsan, nggak bisa IMD. Tapi saya tetap harus memberikan ASI eksklusif, meskipun awalnya gak diizinkan, karena nggak bisa jalan. Tapi setelah dua hari saya nekat dan pakai kursi roda ke ruang bayi untuk memberi ASI.”
Hanya 1,5 bulan usai melahirkan Kemijem harus kembali bekerja. Itu artinya masih ada 4,5 bulan bagi bayinya untuk menikmati hak ASI eksklusif.
Termos mini untuk menyimpan ASI usai diperah
Bersama suaminya, Kemijem berbagi tugas. Gunarto berburu es batu, sementara Kemijem harus meluangkan waktu setiap dua jam sekali untuk memerah ASI. Es batu dibutuhkan untuk memperpanjang usia ASI yang sudah diperah. Dalam sehari 4 botol ASI berhasil diperah.
“Jadi sebelum nganterin kerja beli es, pulang lagi, nganterin bayi ke yang ngasuh, lalu ambil ASI, begitu terus selama enam bulan.”
Mereka tak punya kulkas untuk menyimpan persediaan ASI yang sudah diperah. Daya listrik di rumah kontrakan mereka tak mencukupi. Sementara mencari warung yang menjual es batu, tak semudah yang dibayangkan.
Gunarto, suami Kemijem, menjelaskan, termos itu harus penuh diisi es batu. Jika tidak penuh nanti akan mencair. Gunarto memakai es balok karena lebih tahan lama dibandingkan batu es dari kulkas rumahan. Dengan es balok itu, ASI dalam botol bisa terjaga suhunya supaya tidak cepat basi.
Di tempat lain, Imas Asih Sri Maryani adalah rekan kerja Kemijem di salah satu pabrik garmen di Rancaekek, Jawa Barat. Sejak awal kehamilan anak pertama, Imas sudah berencana memberi salah satu merk susu formula kepada bayinya. Alasannya sederhana. Sebagai buruh dengan masa kerja tiga shift, ia membayangkan betapa repotnya jika harus memberikan ASI kepada buah hatinya.
Kemijem, Dinny dan Imas
Demi memuluskan proses ASI Ekslusif , Imas memutuskan pindah rumah, jauh dari orangtuanya.
“Saya khan tinggal sama mamah. Karena takut nggak lulus ASI eksklusif, saya pindah jauh dari mamah, bawa adik. Pokoknya kalau pas waktu kerja adik ditelepon, saya kerja jam 10 malam besok pulang. Saya takut anak diberi makan.”
Untuk mencuri waktu memerah ASI, Imas harus berkompromi dengan teman-temannya di pabrik. Karena setiap kali ia memerah ASI, ia harus meninggalkan pekerjaan. Padahal mesin pabrik tak boleh mati. Sementara dalam sehari minimal ia butuh istirahat selama tiga kali untuk memerah ASI.
“Kalau masuk shift pagi, sebelum masuk jam setengah enam, trus istirahat pk. 09.00, dan shalat Dzuhur. Sekali merah dapatnya satu botol. Saya merah pakai tangan saja, nggak pernah pakai alat, cukup tangan bersih. Bahkan dulu di pabrik saya ini disebutnya Imas Steril. Ah banyak sekali omongan teman-teman yang nggak enak, tapi tetap jalani saja.”
Sulitnya Buruh Memberi ASI
Dinny Kus Andiany tengah mempraktikkan cara memerah ASI dengan tangan. Siang itu dia menyambangi rumah Kemijem untuk mempersiapkan Kelas Edukasi ASI yang akan segera digelar. Kemijem dan Imas yang telah lulus ASI esklusif tengah ditatar untuk membagikan kisahnya kepada teman-temannya di pabrik.
Asi di dalam Termos Es
Sudah hampir lima tahun ini Dinny aktif terlibat menyuarakan ASI eksklusif untuk bayi. Ibu dua anak ini tergabung dalam Klasi YOP (Yayasan Orangtua Peduli) Bandung, Klub Peduli ASI Kegiatannya memberikan pelatihan bagi para calon ibu, hingga pendampingan bagi ibu melahirkan.
“Tahun 2007 Bandung mendirikan Klasi diawali dua kelas, yakni ibu hamil dan ibu bekerj. Pesertanya beragam dari mulai ibu yang akan hamil, hamil, menyusui, lalu yang single. Bahkan ada nenek dan pengasuh juga ikut dalam kelas ini.”
Belakangan ini Kelasi menyasar para perempuan yang bekerja di pabrik. Pasalnya ibu yang bekerja di pabrik lah yang paling banyak menemui kendala jika harus memberikan ASI Eksklusif.
“Jadi kami punya anggota tim yang kerja di pabrik dan mengeluhkan sistem shift, tak seperti yang bekerja di zona nyaman. Soalnya khan ada sistem shift, dukungan kurang, waktu juga sulit, dan keterbatasan lain. Nah selanjutnya kami berusaha mendampingi, ini merintis karena tidak semua pabrik mau diajak kerjasama. Jadi harus pelan-pelan melakukan pendekatan”, lanjut Dinny.
Kunci Sukses Ibu ASI
Dinny menjelaskan, proses menyusui adalah proses belajar tiga orang sekaligus, yaitu bayi, ibu dan ayah.
“Menyusui itu tiga orang yang belajar. Bayi belajar menghisap, butuh perjuangan untuk itu, karena biasanya disuplai ibunya ketika di perut. Lalu ibunya harus punya ilmu dan percaya diri, harus kekeuh, meskipun banyak halangan. Dukungan suami tak kalah pentingnya. Suami harus mendukung dan menjadi satu tim, satu paket.”
Kemijem tidak akan sukses memberikan ASI eksklusif, jika suaminya tidak turut jungkir balik mendukungnya. Gunarto mulai terbuka wawasannya soal ASI esklusif awalnya hanya iseng-iseng membaca buku panduan ASI milik istrinya.
“Itu khan saya baca buku istri, kadang-kadang kalau istri capek pulang kerja, saya yang bacain, sementara istri tiduran. Saya tidak tahu sama sekali soal ASI Ekslusif. Eh setelah baca kok menarik dan saya penasaran. Pas baca itu saya bilang ke istri pokoknya harus lulus ASI eksklusif nanti.”
“Saya ikut rutin ngontrol kalau mamanya kerja, jangan sampai Rizky dikasih minuman atau makanan. Jadi ngecek ke pengasuh terus-terusan. Lalu kalau kemudian ya ngambil ASI ke pabrik untuk dibawa pulang. Cari es, meski capek tapi nggak papa, yang penting tetap ASI ekslusif”, lanjut Gunarto
Perjuangan memberikan ASI eksklusif semakin teruji, ketika Kemijem masuk rumah sakit karena demam berdarah. Dengan tangan diinfus, dia masih berusaha memerah ASI.
“Awalnya masih jalan produksi ASI-nya. Pas diinfus tangan satu meres, lalu suami yang pegang botolnya. Saya juga minta ke dokter agar diberi obat yang tidak bahaya untuk bayi.”
Namun, kondisi Kemijem membuat ASI tak keluar lancar. Hampir putus asa karena bayi terus rewel, Kemijem mengadu ke Kelasi Bandung. Beruntunglah banyak ibu yang saat itu tengah menyusui bayi mereka. Kemijem mendapatkan donor ASI. 10 botol yang cukup untuk persediaan tiga hari.
“Karena susah makan, sehari paling cuma bisa dapat dua botol saja. Jadi kalau sudah dapat peresan ama suami dibawa pulang, trus saya di rumah sakit sendiri. Keteteran. Sudah putus asa awalnya, lalu menghubungi teman di kelasi, trus dikasih tahu ada donor ASI. Alhamdulilah, saya gak apa-apa anak saya dapat ASI dari donor, yang penting anak saya tetap bisa dapat ASI, bukan susu formula.
Donor ASI juga menjadi pilihan Imas untuk anaknya. Dia tak sungkan meminta bantuan ASI kepada rekan kerjanya yang sama-sama memerah ASI. Bahkan donor ASI ini berlangsung hingga dua bulan.
“Waktu itu sempat ASI-nya gak cukup. Sempat minta donor ke teman, waktu itu dua bulanan meminta ASI, setiap hari minta satu botol.“
Imas sempat mengabaikan perintah dokter untuk meminum obat untuk menyembuhkan penyakit asmanya. Dia khawatir obat itu akan meracuni anaknya.
“Saya kasih ASI sampai umur 22 bulan, berhenti karena saya sakit asma. Sebelumnya sih saya nggak minum obat itu karena tak diperbolehkan untuk ibu menyusui. Tapi ketika berumur 22 bulan, asma saya sudah parah dan harus minum obat itu. Akhirnya berhenti ngasih ASI.”
Kemijem dan Imas sudah merasakan keampuhan ASI untuk anak-anak mereka. Kata mereka, perjuangan itu tak sia-sia. Anak mereka lebih sehat, pintar dan kreatif. ASI diakui memiliki banyak keunggulan dibanding susu formula. Yang paling buat buruh berpenghasilan pas-pasan seperti mereka, jelas ASI lebih murah.
http://kbr68h.com/saga/77/9334