Wednesday, February 10, 2010

Berikan ASI, Bukan Air Susu Ibu Sapi

Wednesday, 30 December 2009 13:59

Tiap makhluk memiliki karakteristik masing-masing, termasuk bayi manusia. Mengapa bayi Anda harus diberi susu dari ibu sapi?
Hidayatullah.com–Ide menggunakan botol susu sebagai pengganti ASI merupakan hal yang aneh 80 tahun lalu. Namun sekarang, para wanita harus dibujuk agar mau meninggalkan botol susu dan kembali menyusui anaknya secara alami.

Alasan seperti; wanita ingin segera kembali bekerja di luar rumah begitu selesai melahirkan, sakit ketika menyusui, atau tidak percaya diri untuk menyusui bayinya, adalah faktor-faktor penyebab berkurangnya jumlah ibu menyusui.

Banyak ahli kedokteran yang selalu mendorong agar para ibu mau memberikan ASI secara alami. Mereka bahkan telah menyodorkan sederet manfaat pemberian ASI, yang baik untuk kesehatan, kecerdasan, dan emosional anak dan ibunya.

Manfaat pemberian ASI secara alami bagi ibu, antara lain:

1. Tidak memberatkan anggaran belanja. ASI tidak perlu dibeli dengan harga yang sangat mahal seperti susu formula.

2. Menyusui bisa membantu mengurangi berat badan ibu.

3. Ketika bayi menghisap susu ibu, hal itu memicu produksi oxytocin yang bisa membuat rahim berkontraksi sehingga kembali ke ukuran semula.

4. Resiko kanker payudara menurun, sejalan dengan lamanya masa menyusui setiap anak.

5. Ibu akan terlindungi dari penyakit diabetes tipe 2, kanker indung telur, dan depresi, setelah melahirkan (PPD).

6. Kegiatan menyusui memerlukan suasanya tenang, sehingga kontak fisik antara ibu dan bayi menimbulkan rasa nyaman bagi keduanya. Kontak fisik membuat ikatan batin ibu dan anak semakin kuat.

7. ASI tidak merepotkan ibu, karena tidak perlu merebus air dan mensterilkan botol. ASI adalah makanan bayi siap saji.

Manfaat pemberian ASI secara alami bagi bayi, antara lain:

1. Ketika bayi menghisap puting ibunya, bukan hanya susu yang didapat, tapi bayi juga melatih rahangnya. Menyedot puting ibu membantu bayi pada masa transisi dari ASI ke makanan padat.

2. Gerakan menyedot susu ibu juga akan memudahkan si bayi untuk belajar bicara.

3. ASI jauh lebih menyehatkan. Colostrum, yaitu susu pertama yang keluar dari puting ibu, mengandung gizi yang sangat lengkap, protein, dan antibodi. Semuanya itu sangat diperlukan bagi bayi yang belum memiliki sistem pertahanan tubuh mumpuni. Antibodi pada ASI yang tidak dimiliki susu formula melindungi bayi dari berbagai macam infeksi.

4. Bayi terlindungi dari penyakit seperti infeksi telinga, virus-virus di perut, diare, infeksi pernafasan, atopic dermatitis, asma, obesitas, diabetes tipe 1 dan 2, leukimia, sindrom kematian bayi mendadak (SIDS), penyakit pencernaan.

ASI mengandung jumlah vitamin D dan E lebih banyak daripada susu formula. Penelitian menunjukkan, ASI dua setengah kali lebih ampuh mencegah terjadinya rakhitis.

ASI mengandung mineral yang bermacam dan jumlahnya lebih banyak dari susu formula. Bahkan banyak mineral yang ada pada ASI tidak dimiliki susu formula. Sebut saja selenium dan chromium. Selenium sangat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Sementara Chromium membantu menyeimbangkan kadar gula dalam darah.

Mineral seperti kalsium, zat besi, dan mangan pada ASI, bisa dengan mudah diserap tubuh. Namun tidak demikian dengan mineral yang ada pada susu formula.

Tidak seperti susu formula, ASI membantu pembentukan bakteri yang bermanfaat seperti Bifido. Bakteri ini menjaga saluran pencernaan bayi dari bakteri berbahaya, serta mencegah terjadinya kolik dan eksema.

Obesitas jarang dijumpai pada bayi yang minum ASI, tidak seperti mereka yang minum susu formula.

ASI juga membuat bayi lebih cerdas, karena DHA yang sangat penting untuk pembentukan otak jumlahnya lebih banyak. Penelitian menunjukkan, bayi ASI mendapatkan nilai 6-10 poin lebih tinggi dalam tes intelejensia dibandingkan bayi-bayi susu formula.

Dan tentunya logika sederhana menyatakan, ASI pasti cocok untuk bayi, karena ASI memang susu untuk anak manusia. Sedangkan susu formula sebenarnya adalah susu sapi yang tentunya paling cocok untuk anak sapi. [di/bc/illi/

Sumber : www.hidayatullah.com

Menyusui Cara Efektif Membakar Lemak

CIncinnati, Ibu-ibu muda yang baru memiliki anak memilih teknik menyusui untuk menurunkan berat badannya. Peneliti menemukan kegiatan menyusui memang bisa efektif menurunkan berat badan karena bisa membakar lebih dari 500 kalori.

Ibu-ibu yang baru melahirkan dan sedang menyusui mungkin tidak akan mengira bahwa mereka membakar lebih banyak kalori dibanding wanita yang pergi ke tempat fitnes.

“Jika menyusui dilakukan rutin selama 6 bulan, kemungkinan kurusnya akan lebih cepat setelah melahirkan,” kata Karen Wosje, profesor pedriatik dari Cincinnati Children’s Hospital Medical Center seperti dilansir Chicagotribune, Selasa (19/1/2010).

Meski demikian, tidak semua wanita pasca melahirkan bisa mendapatkan tubuh langsing dengan diet menyusui.

“Setiap hari saya memompa payudara untuk mendapatkan ASI agar bisa kurus setelah melahirkan. Bahkan saya punya 2 kulkas untuk menyimpan persediaan ASI saya, tapi berat badan saya tidak turun-turun juga,” kata seorang wanita.

Masalahnya adalah, semakin banyak air susu yang diproduksi, semakin tinggi pula nafsu makan ibu menyusui. Hal itu disebabkan karena produksi hormon prolaktin yang merangsang nafsu makan. Selain itu, faktor stres dan kurangnya aktivitas juga bisa menghambat keefektifan diet menyusui.

Untuk itu, yang harus dilakukan adalah memperbanyak aktivitas. “Tidak bisa hanya mengandalkan menyusui saja untuk bisa kurus. Tanpa melakukan kegiatan lainnya, percuma saja. Diet menyusui memang bisa membakar kalori, tapi banyak faktor lainnya yang mempengaruhi,” ujar Profesor Karen.

Diet menyusui terbukti efektif pada ibu-ibu yang sedang menyusui. Oleh karena itu beberapa peneliti pun terinspirasi untuk menerapkan teknik tersebut pada wanita yang tidak menyusui.

“Asalkan prinsip dan tekniknya sama, kami menduga diet menyusui juga bisa berguna untuk membantu para wanita yang kegemukan. Namun perlu studi lebih lanjut lagi untuk membuktikannya,” kata Prof Karen.
(fah/ir)

Sumber : Detikhealth

Menyusui Atasi Kegemukan Usai Persalinan

Menyusui merupakan salah satu cara untuk cepat menurunkan berat badan usai bersalin. Sebaiknya, iringi dengan olah fisik yang cukup.

CINCINATI–Tanpa disadari kegiatan menyusui pascamelahirkan membantu para ibu muda mengembalikan berat badan seperti semula. Fakta itu terungkap setelah para peneliti melakukan sebuah riset yang menyimpulkan kegiatan menyusui secara efektif membakar lebih dari 500 kalori.

Peneliti juga menyebutkan kegiatan menyusui bahkan jauh lebih efektif ketimbang menghabiskan waktu secara rutin mengikuti fitness. “Jika menyusui secara rutin selama 6 bulan, kemungkinan kurusnya akan lebih cepat usai melahirkan,” tukas Karen Wosje, Profesor Pediatrik dari Children Hospital Medical Center, seperti dikutip dari Chicagotribune.com,Selasa (19/1).

Meski demikian, Karen mengakui, tidak semua perempuan pascamelahirkan bisa mendapati tubuhnya langsung seketika dengan diet menyusui.

Salah seorang Perempuan kepada Chicagotribune.com mengaku dirinya sudah melakukan diet ini secara ketat tapi tetap saja berat badan dirinya tidak jua menyusut. “Setiap hari saya memompa payudara untuk mendapatkan ASI agar bisa kurus setelah melahirkan. Bahkan saya punya dua kulkas persedian ASI, tapi tetap saja berat badan saya tidak turun,” katanya.

Pasalnya, semakin banyak air susu yang diproduksi akan diikuti pula dengan nafsu maka ibu. Hal itu disebabkan, produksi hormon prolaktin yang merangsang nafsu makan. Selain itu, faktor stress dan kurangnya aktivitas juga menghambat suksesnya diet menyusui.

“Tidak bisa hanya mengandalkan menyusui untuk bisa kurus tanpa melakukan aktivitas apapun,” tegasnya.

Karen berpendapat kegiatan menyusui bisa membakar kalori tapi banyak faktor yang mempengaruhi. Ia juga menegaskan, asalkan prinsip dan tekniknya sama, diet menyusui juga bisa diterapkan pada perempuan dengan kegemukan. Tapi perlu bukti dan riset mendalam untuk mengungkap hal itu.

Sumber : Republika

Ibu Indonesia Teruslah Menyusui

Sunday, 02 August 2009
MENYUSUIbayi dengan ASI dapat mencegah kematian 1,3 juta bayi setiap tahun.Selain kekebalan tubuh bayi lebih baik,ibu pun berisiko lebih rendah terkena kanker payudara.

Pekan ini, tepatnya 1-7 Agustus mendatang,masyarakat di seluruh dunia menggemakan Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week). Ini merupakan upaya global untuk terus meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyusui bayi dengan ASI (air susu ibu) hingga 6 bulan. Hingga kini di seluruh dunia hanya terdapat kurang dari 40% ibu yang menyusui bayinya hingga 6 bulan sesuai anjuran WHO.

Banyak di antara para ibu yang menyerah dan patah arang karena tidak tahu bagaimana cara menyusui yang baik, misalnya cara perlekatan yang tepat.Ada pula yang beralasan sakit atau tidak nyaman saat menyusui. Sungguh ironis karena hal-hal demikian sesungguhnya tidak perlu terjadi jika saja para ibu mau bertanya atau mencari informasi tentang manajemen menyusui (laktasi) yang baik.Padahal menurut WHO, mengajari para ibu baru tentang cara menyusui dapat menyelamatkan 1,3 juta anak dari kematian setiap tahun.

”Meningkatkan hingga 90% angka menyusui global untuk bayi hingga usia 6 bulan dapat menyelamatkan sekitar 13% dari 10 juta kematian balita setiap tahunnya,”kata staf ahli WHO,Constanza Vallenas. Vallenas berpandangan, kurangnya jumlah praktisi menyusui menjadi salah satu kendala,baik di negara maju maupun negara-negara miskin. Untuk itu, ia mengharapkan adanya lebih banyak petugas di rumah sakit, klinis maupun komunitas yang membantu memberikan penyuluhan bagi para ibu ataupun calon ibu baru tersebut.

Sementara itu, dalam pernyataan terkait Pekan Menyusui Dunia 1-7 Agustus, Dirjen WHO Margaret Chan juga menekankan pentingnya memberikan dukungan bagi para ibu di daerah bencana untuk memulai kembali menyusui bayinya.Acapkali saat terjadi bencana dan setelahnya, aktivitas menyusui tergantikan dengan banyaknya bantuan yang datang, salah satunya susu formula.

Hal ini tidak boleh terus berlanjut karena menghentikan pemberian ASI dapat membuat bayi lebih berisiko terkena penyakit.”Fokusnya tetap aktif melindungi dan mendukung kegiatan menyusui,”sebut Chan. Sejak 2004, berdasarkan 3.000 lebih penelitian,WHO menyarankan pemberian ASI eksklusif pada satu jam pertama setelah lahir dan meneruskannya hingga 6 bulan. ASI adalah fondasi imunitas bagi bayi.Bahkan,kolostrum yang dihasilkan beberapa hari menjelang kelahiran hingga 4-5 hari pasca-melahirkan, kaya akan protein dan mineral untuk membantu merangsang kekebalan tubuh bayi.

Dengan daya tahan tubuh kuat, anak terhindar dari berbagai penyakit seperti diare dan radang paru (pneumonia). Manfaat yang sama tidak akan didapat jika ibu hanya memberi bayi susu formula. Sayangnya, banyak para ibu yang masih ragu dan bertanya-tanya bagaimana bayi dapat tumbuh dan berkembang optimal hanya dengan minum ASI selama 6 bulan. Padahal, selain memasok nutrisi dan mengoptimalkan kekebalan tubuh bayi, ASI juga paling aman bagi sistem pencernaan bayi yang masih sensitif.

Spesialis anak dan konsultan laktasi, Prof Dr Hj Rulina Suradi SpA(K) IBCLC, menjelaskan, saluran cerna merupakan salah satu organ terpenting dalam pertumbuhan. Sekitar 80% sel pada saluran cerna menghasilkan antibodi dan 40% jaringan cerna disusun oleh jaringan limfoid yang disebut Gut AssociatedTyphoidTissue (GALT).

”Kedua komponen ini sangat berperan bagi imunitas tubuh manusia. Di lain pihak, saluran cerna merupakan organ yang kerap terpapar lingkungan luar dengan masuknya makanan maupun mikroorganisme,” ujarnya. Secara fisiologis,janin aman dan steril dari mikroorganisme selama dalam kandungan.Namun,beberapa jam setelah dilahirkan,bayi bisa terpapar kuman.Untuk menangkalnya, bayisebaiknya diberikolostrum (disusui) segera setelah lahir. Ini penting karena kolostrum akan menutup reseptor yang ada dalam saluran pencernaan.

”Bayi yang mendapat ASI eksklusif saluran cernanya didominasi bifidobacteri, sejenis bakteri ‘baik’. Hal ini tidak terlihat pada bayi yang diberi susu formula,”ungkapnya. Sementara itu, banyak penduduk Amerika yang salah beranggapan bahwa susu formula itu sama baiknya dengan ASI. Kondisi ini diperburuk dengan adanya sejumlah ibu yang enggan atau malu memberi ASI kepada anaknya saat berada di tempat umum.

”Temuan ini membuktikan bahwa diperlukan pemahaman dan penanaman kesadaran kepada masyarakat luas tentang pemberian ASI sebagai makanan terbaik untuk perkembangan bayi,” ujar Dr Rowe Li dari the Centers for Disease Control and Prevention (CDCP) Amerika. Li yang juga seorang peneliti menekankan bahwa banyak manfaat yang diperoleh dari pemberian ASI. (inda susanti/rtr)
Sumber : SINDO





Selasa, 15 September 2009 | 10:35 WIB

KOMPAS.com – Setiap ibu berpotensi menyusui bayinya. Karena itu, persiapkan sejak dini agar payudara tetap sehat dan prima dalam menjalankan fungsinya kelak.

Payudara milik perempuan sesungguhnya merupakan sarana untuk menyusui bayinya. Oleh sebab itu, setiap calon ibu sebaiknya mempersiapkan diri jauh sebelum kelahiran agar buah hati mendapatkan tetesan ASI yang berharga itu.

“Mempersiapkan kehamilan yang sehat harus dimulai sebelum menikah lewat pemeriksaan pra nikah. Bila sejak hamil ibu sehat, persalinannya sehat, ASI pun akan keluar,” kata dokter Achmad Mediana, Sp.OG dari rumah sakit Gandaria, Jakarta.

Untuk dapat menyusui dengan baik, persiapan ASI sudah dimulai sejak kehamilan 8 minggu. Pada masa ini terjadi perubahan pada payudara, yaitu payudara menjadi lebih besar, lebih padat, gambaran pembuluh darah merah lebih jelas dan terkadang agak sakit.

Karena itu sebaiknya ibu mulai mengganti kutangnya agar bisa menyangga payudara dengan baik. Hati-hati, jangan kekecilan karena dikhawatirkan akan menekan dan mengganggu saluran ASI, sehingga menghambat produksi ASI kelak.

Lakukan pula persiapan agar puting susu lentur, kuat, dan tidak tersumbat. Persiapan ini dilakukan setiap hari sejak kehamilan 7 bulan. Caranya adalah dengan mengompres puting susu selama 2-3 menit dengan kompres dibasahi minyak atau baby oil. Tarik dan putar puting susu ke arah luar serta pijat daerah sekitar puting untuk membuka saluran susu.

Untuk memudahkan proses menyusui ibu hamil juga bisa mengikuti kursus manajemen laktasi di sentra-sentra laktasi yang ada di rumah sakit.

Selama hamil, jangan lupa untuk mengonsumsi makanan bergizi, istirahat cukup, menjauhi asap rokok, alkohol, atau kopi karena bisa mengurangi daya serap usus untuk menyerap kalsium dan zat besi.

Setelah persalinan, sebaiknya ASI perkenalkan sedini mungkin melalui proses IMD (inisiasi menyusu dini). Menurut dr. Utami Roesli Sp.A dari Sentra Laktasi Indonesia, kontak antara kulit ibu dan kulit bayi segera setelah lahir dan menyusu sendiri dalam satu jam pertama kehidupan bayi sangatlah penting.

“Bayi juga akan mendapat kolostrum, cairan emas kaya antibodi dan zat-zat penting untuk kelangsungan hidup bayi,” katanya. Sentuhan dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan pada ibu.

Sentuhan itu juga merangsang hormon lain yang membuat ibu jadi tenang, relaks dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara.

Bila ASI belum keluar, ibu tidak perlu khawatir. “Bisa saja setelah 2-3 hari ASI baru keluar dan bayi tidak akan kelaparan meski tanpa makanan atau minuman karena ia masih punya cadangan makanan di tubuhnya,” kata Achmad.

Untuk merangsang pengeluaran ASI, ibu dan bayi sebaiknya menginap dalam satu ruangan yang sama di rumah sakit (rooming in). Meski air susu belum keluar, kontak kulit yang dilakukan ibu kepada bayi akan memperbesar peluang keluarnya ASI.

“Yang terpenting adalah mengubah mindset para ibu bahwa ia harus yakin bisa menyusui. ASI itu dibuatnya dari otak ibu, karena itu ibu harus siap dan yakin bisa,” papar Achmad. “Dari zaman nabi pun setiap bayi mendapat makanan dari ASI, mengapa sekarang kita repot-repot memberi susu formula,” katanya.

Sumber : Kompas

Jarang Menyusui, Mengurangi Produksi ASI

AMIL dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seorang wanita. Selanjutnya, predikat sebagai seorang ibu menjadi lengkap ketika dia berhasil menyusui buah hatinya.

Menyusui merupakan suatu aktivitas psikososial yang bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri,terutama bagi ibu yang baru memiliki anak pertama. Menyusui memang menjadi kodrat seorang ibu. Bahkan, jika memungkinkan, idealnya bayi lekas disusui segera setelah dilahirkan.

”Begitu terdengar lengking tangis bayi mengawali kehadirannya di muka bumi,tali pusat digunting, bayi pun ditaruh di atas perut ibu agar dapat merasakan kedekatan emosional.Si kecil pun segera mencari puting susu ibu dan mulai menetek,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, Dr Purnamawati S Pujiarto SpA (K) MMPed.

Dia menambahkan, gagalnya seorang ibu memberi ASI eksklusif sebagian besar sebenarnya disebabkan hal yang bisa dicegah. ”Yang kurang hanya dukungan, baik dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatannya itu sendiri,” sebutnya.

Saat menyusui, seorang ibu memerlukan ketenangan pikiran dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan (stres) karena akan berpengaruh terhadap produktivitas ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu.”Kuantitas ASI juga tergantung dari isapan bayi yang dapat merangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI berikutnya,” kata spesialis anak dari Sentra Laktasi, Dr Nanis Sacharina Marzuki SpA.

Mungkin itulah sebabnya ketika ibu mulai jarang menyusui produksi ASI-nya juga kian berkurang. Bahkan,menurut pengakuan beberapa ibu, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali (kering).

Secara teknis,faktor penyebab berkurangnya produksi ASI, antara lain karena setelah lahir bayi tidak langsung disusui dan ASI tidak diperah.Padahal jika payudara tetap penuh, maka akan terbentuk PIF (Prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan pembentukan ASI. Sedangkan secara psikologis, berkurangnya ASI bisa disebabkan rasa khawatir, stres, rasa nyeri, dan rasa ragu yang dirasakan si ibu.

”Terkadang ibu merasa tidak percaya diri karena ASI-nya kurang. Ditambah lagi pendapat dan saran yang salah dari orang lain menyebabkan ibu cepat berubah pikiran dan jadi stres. Akibatnya bisa menekan refleks sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik,”tutur Nanis.

Perlekatan yang tidak tepat antara mulut dan puting susu ibu juga bisa menyebabkan nyeri dan puting menjadi lecet sehingga ASI tidak keluar dengan lancar. Adapun perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terputar ke bawah dan sebagian besar areola (puting susu) ibu masuk ke mulut bayi. ”Untuk meningkatkan jumlah ASI, cobalah berpikir dengan penuh kasih sayang pada bayi,”saran Nanis.(inda)

Sumber : SINDO

Batuk-Pilek, Tak Perlu Cemas!

Pengobatan untuk batuk dan pilek umumnya tidak efektif.

Wajah Evie yang tenang tiba-tiba menegang. Ibu tiga anak ini terhenyak saat membaca salah satu surat elektronik yang dikirim temannya. Isinya mengingatkan agar berhati-hati dalam menggunakan obat batuk dan flu. Sebab, kedua jenis obat itu bisa membuat perdarahan di otak karena mengandung phenylpropanolamine (PPA). “Benar-benar mengerikan,” ia berkomentar. Bukan cuma Evie, rekan sekantornya, Singgih, pun memiliki kecemasan serupa. Ayah satu anak ini mencoba mencari tahu gara-gara kiriman surat elektronik serupa.

Dalam jumpa pers di Departemen Komunikasi dan Informatika, Selasa lalu, Kepala Badan Pengawas Pengendalian Obat dan Makanan Husniah Rubiana Thamrin Akib memberi jawaban. Ia menegaskan tidak benar pada Maret 2009, Badan Pengawasan Obat-obatan dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengeluarkan peringatan bahaya menyangkut sejumlah obat batuk dan flu dengan kandungan PPA seperti yang ditemukan dalam pesan singkat dan surat elektronik sejumlah orang. Pesan itu menyebut merek, di antaranya Decolgen, Mixaflu, Mixagrip, Neozep Forte, Procold, Sanaflu, Stopcold, Siladex, Triaminic Drops, Tusalgin, Flucyl, dan Fludane.

Husniah menyebutkan, FDA memang telah menarik semua jenis obat dengan kandungan PPA, sehingga di sini pun ramai dibicarakan. Alasan penarikan itu karena ada studi yang menunjukkan gejala perdarahan di otak (hemorrhagic stroke) jika mengkonsumsi dalam dosis besar. Dosis ini biasanya ditemukan pada obat pelangsing yang dijual bebas di Amerika Serikat. Padahal Indonesia tidak pernah menyetujui penjualan obat dengan kandungan PPA sebagai obat pelangsing. Jelas bahwa obat batuk dan pelangsing adalah dua hal yang berbeda.

Soal kandungan PPA dalam obat batuk dan flu sebenarnya sudah didengungkan sejak tahun 2000-an di Negeri Abang Sam. Sesuai dengan rekomendasi FDA, sejumlah perusahaan farmasi di negeri tersebut sudah melakukan perubahan kandungan, bahkan menambahkan sejumlah peringatan dan menyatakan obat bebas tidak diperuntukkan bagi anak di bawah dua tahun bahkan enam tahun.

Keamanan dan efektivitas antihismatin, decongestant, antitusin, dan ekspektoran pada anak pun ditelisik FDA. Awal tahun lalu, badan ini mengevaluasi hasil studi pada rentang 1969-2006 serta menemukan 54 anak meninggal karena decongestant dan 69 orang disebabkan antihismatin. Kebanyakan kematian terjadi pada anak di bawah dua tahun. Badan ini juga menyimpulkan, obat dengan kandungan tersebut sebaiknya tidak diberikan kepada anak di bawah 12 tahun. Dan disarankan untuk melakukan konsultasi ke dokter sebelum meneguk obat-obatan.

Di Indonesia, BPOM menyarankan untuk mengkonsumsi obat flu dan batuk yang mengandung PPA sesuai dosis. “Selain peringatan dalam kemasan, harus diperhatikan, tidak boleh diminum melebihi dosis maksimal bagi anak dan dewasa,” Husniah menjelaskan. Ia menambahkan, dosis maksimal orang dewasa adalah 75 miligram hari dan anak-anak 37,5 miligram per hari. Kandungan PPA dalam obat tersebut disebutnya berfungsi sebagai penghilang gejala hidung tersumbat.

Selama ini, dengan dosis tersebut BPOM belum menemukan laporan efek samping, apalagi sampai perdarahan di otak. Husniah menyebutkan, peringatan kepada penderita tertentu sudah tercantum jelas pada kemasan. Jika obat batuk dan flu dengan kandungan PPA dikonsumsi sesuai aturan pakai, efek sampingnya adalah mengantuk, sakit kepala, mual, muntah, gelisah, atau susah tidur. “Efeknya ringan dan sementara,” ia menegaskan.

Lagi pula sebenarnya ketika anak batuk dan flu, orang tua tidak perlu risau. Seperti diungkapkan oleh sejumlah dokter spesialis anak, batuk bukanlah penyakit, hanya suatu gejala dan umumnya tidak berbahaya, yang bisa ditangani dengan asupan cairan yang memadai serta istirahat. Dr Purnamawati, SpA pun menekankan hal ini dalam bukunya, Smart Parent Healthy Child. Ia menyebutkan, batuk merupakan salah satu mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran napas dan paru-paru dari mikroorganisme, lendir, dan benda asing.

American Academy of Pediatrics (AAP) pun menyatakan pengobatan untuk batuk dan flu umumnya tidak efektif dan memicu efek sampingan serius bagi anak. Lagi pula ada cara lain untuk menangani gejala batuk pilek. Tahukah Anda bahwa delapan gelas air, jus buah, dan air kaldu atau air perasan jeruk campur madu dapat membantu melegakan hidung tersumbat serta mencegah dehidrasi? AAP pun menyarankan untuk melembapkan udara dengan hydrator atau vaporizer, menggunakan tetesan air garam untuk mengeringkan hidung yang berair, memberi anak sup ayam hangat, dan bila sudah memburuk, baru konsultasi dengan dokter anak. RITA | DIANING SARI

Periksa ke Dokter

1. Bila batuk disertai demam tinggi, di mana suhu di atas 40,5 derajat Celsius, kemungkinan terjadi infeksi bakteri.
2. Dahak kental, berbau, dan berwarna.
3. Muntah-muntah berwarna hijau.
4. Batuk yang mengeluarkan darah.
5. Batuk berlangsung lebih dari tiga pekan.
6. Diikuti pembengkakan di wajah atau tenggorokan.
7. Kesulitan bernapas atau napas pendek-pendek.

Langkah Sederhana

1. Beristirahat dan tidur yang cukup.
2. Tingkatkan asupan cairan. Dengan cara ini, Anda terhindar dari dehidrasi, mencegah lapisan dalam tenggorokan tidak mengering, serta dahak menjadi lebih encer dan mudah dikeluarkan.
3. Hindari minuman bersoda karena memperparah dehidrasi. Untuk orang dewasa, kurangi kopi dan minuman beralkohol.
4. Jauhkan diri dari asap rokok karena akan memperparah kondisi.
5. Mandi air hangat karena meningkatkan kadar kelembapan udara dan meringankan batuk kering.
6. Konsumsi makanan bergizi seimbang dan minum air putih yang banyak.
7. Untuk pencegahan, cuci tangan sesering mungkin.

Sumber : Koran Tempo
http://purnamawati.wordpress.com/2009/04/23/batuk-pilek-tak-perlu-cemas/