Saturday, February 13, 2010

Wednesday, February 10, 2010

Hasna Hanifah Tadjoedin






hasna umurnya 1 tahun 3 bulan dan alhamdulillah tidak pernah check in di rumah sakit. sakit yang diderita hanyalah kadang2 batuk, pilek, demam dan diare. semuanya sembuh dengan sendiri tanpa obat dari dokter, berkat milis sehat dan asi for baby saya belajarbanyak tentang menyusui dan tumbuh kembang baby serta RUM ( rational use medicine)
saya ingin menjadi ibu yg terbaik buat baby saya, saya hanyalah ibu biasa yg terus belajar dan belajar..

Bukan karena Menyusui, Payudara tak Indah Lagi

Sabtu, 5 September 2009 | 09:06 WIB

KOMPAS.com - Anggapan payudara menjadi jelek bila menyusui bayi bukan isu baru. Dari dulu anggapan menyesatkan semacam ini sudah sering beredar, juga di kalangan perempuan berpendidikan. Mereka yakin, itu sebuah keniscayaan.

Lalu, mengapa itu dinilai menyesatkan? Karena memang anggapan itu tidaklah benar. Secara medis tidak ada bukti, gara-gara menyusui bayi, payudara jadi berubah jelek.

Sejatinya, dipakai menyusui atau tidak, payudara ibu yang sudah melahirkan pasti jelek. Jadi kalau begitu adanya, mengapa tidak memilih menyusui saja, demi memberi hak kepada anak agar mendapat makanan terbaik?

Kita tahu, selama proses kehamilan, jaringan payudara mengalami perubahan akibat pengaruh hormon. Kelenjar susu jadi aktif berproduksi. Jaringan penunjang payudara meregang, dan itu yang menyebabkan struktur payudara berubah setelahnya.

Payudara tersusun oleh kelenjar susu, selain lemak. Makin besar ukuran payudara, makin memerlukan jaringan penunjang untuk memikul beratnya. Potensi payudara untuk mengendur lebih besar sesuai ukuran. Makin besar payudara, makin besar potensi menggelantung, apalagi kalau tak tepat memilih kutang.

Jadi “Inem” Agar Kekar
Kokohnya payudara juga ditentukan oleh kondisi otot dada tempat jaringan payudara melekat. Tergantung seberapa kokok otot dada terbentuk, makin kekar sosok payudara yang didukungnya. Setiap perempuan hendaknya memperkokoh otot dada supaya payudaranya tetap kekar didukung otot-ototnya.

Wanita yang melakukan pekerjaan di rumah (domestik) setiap hari umumnya memiliki otot dada yang kokoh. Otot terbentuk padat, sintal, bernas. Sebagai alas payudara, kekekaran otot dada memengaruhi bentuk payudara juga.

Payudara tak mungkin bertahan sekekar sebelum hamil dan melahirkan. Namun, bila otot dada lebih kekar, tidak akan lebih menggelantung daripada yang otot dadanya kurang kekar. Di situ pentingnya mengekarkan otot dada.

Pekerjaan mencuci pakaian (menggilas), misalnya, mempertebal dan mengokohkan otot dada. Wanita modern sengaja mengencangkan otot dada dengan senam dan fitnes.

Rugi tidak menyusui
Selain ukuran, bentuk dan rupa payudara tidak seragam. Ada yang mungil, ada yang jumbo. Ada yang mancung, ada yang pesek. Itu ditentukan oleh bawaan lahir. Boleh dibilang payudara itu dilahirkan, bukan dibentuk. Kecuali bila direkayasa dengan operasi atau alat khusus.

Kodrat payudara itu untuk menyusui bayi. Bila tidak dipakai sesuai kodratnya, tentu ada yang salah. Kesalahan karena tidak memberi anak hak mendapatkan makanan terbaiknya. Itu berarti anak belum tentu bertumbuh dan berkembang optimal.

Bila diberi ASI, anak akan seunggul warisan yang diterimanya. Bukan saja ASI lebih sesuai untuk tubuh anak, kekebalan tubuh anak pun menjadi prima. Anak yang tidak diberi ASI lebih sering sakit daripada yang mendapat ASI. Penyakit seringan apa pun akan merongrong tumbuh kembang anak.

Lebih dari itu, dengan menyusui perempuan akan merasa sempurna sebagai ibu. Tak cukup hamil lalu melahirkan. Pengalaman menyusui bayi adalah faset dalam kehidupan perempuan. Di balik itu ada sentuhan pada batin ibu, ada jalinan batin.

dr.Handrawan Nadesul, dokter umum dan pengasuh rubrik di Tabloid Gaya Hidup Sehat

Sumber : Kompas

menyusui lebih dari dua tahun

hasna sekarang umurnya 1 thn 3 bulan ( 15 bulan)..banyak orang yg mencibir bahkan berkata negatif dgn apa yg saya lakukan terhadap hasna. yaitu memberikan hasana ASI sampai detik ini.

Kenapa tidak diberikan susu tambahan?? kan kasihan badannya kurang gemuk, lembek gitu..

kan banyak susu formula yg bagus dan murah...

arggghhh rasanya mau marah..sebel dan kesal....hello,...tahukan anda cara pembuatan susu formula di INDONESIA apalagi susu buatan CHINA yang mengandung formalin...

asi jauh lebih baik ketimbang formula,dan di al quran juga menyebutkan menyusui sampai 2 tahun,...

berikut ini adalah artikel yg saya dapatkan ttg menyusui lebih dari dua tahun, dampak dan bagaimana kandungan ASI


Hingga saat ini banyak sekali anggapan miring ttg ibu yang menyusui anaknya > 1th. Sering kita dengar kalimat ”Kalo anak > 1 th kan dah jelek ASInya”. Atau tak jarang juga terdengar kalimat ”Kalau disusui terus anak jadi manja dan gak mandiri”. Nah benarkah hal ini ? Artikel berikut dirangkum dari beberapa artikel dari La Leche League dan WHO tentang fakta-fakta seputar menyusui anak batita ( hingga umur 3 th)[1].

Ternyata anggapan2 bahwa ASI gak bagus, nyusui anak besar bisa membuat jadi manja dan gak mandiri tsb TIDAK BENAR. Bahwa ternyata kandungan ASI > 1 th memiliki kandungan yang luar biasa bermanfaat utk anak. Yg jelas, ASI tetap memiliki zat imun yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Bahkan satu penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat imun meningkat jumlahnya dalam ASI di th keduam sehingga memberikan perlindungan yg lebih besar bagi anak. Belum lagi kandungan gizinya. Pada tahun kedua, kandungan ASI masih mengandung banyak manfaat[1].

Nah manfaat buat ibu gimana ? Banyak para ahli medis menbuktikan bahwa menyusui dapat memberikan ibu proteksi dari berbagai penyakit. Makin lama ibu menyusui, makin besar proteksi yg diberikan. Ibu dapat terminimalisasi dari resiko terkena kanker payudara, kanker ovarium (indung telur), kanker uterine (rahim), osteroposis, dsbnya[1].

Benarkah jika anak disusui terus menerus akan membuat ia jadi manja dan gak mandiri ?

Ini juga sama sekali TIDAK BENAR. Justru anak-anak yg disusui hingga ia berhenti sendiri (menyapih dirinya sendiri) lebih mandiri. Kenapa ? karena ia menemukan sendiri kemandiriannya. Ia merasa lebih nyaman dalam menemukan fase tsb. Ingat loh fase psikologis usia batita itu buat anak2 terkadang “mengerikan”. Ia harus belajar utk menerima kondisi di sektiarnya. Dengan menyusui, akan memudahkan anak menghadapi fase tsb dg lebih mudah. Terkadang juga kita memaksakan anak utk mandiri lebih cepat dari biasanya. Padahal di usia ini justru ia butuh ibunya dan ayahnya utk membantunya menemukan rasa percaya dirinya dsbnya[1].

Jadi menyusui di usia ini justru memenuhi kebutuhan psikologisnya.

American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan : "Susuilah anak di tahun pertamanya dan susuilah terus selama ibu dan anak saling menginginkan…Makin lama ibu menyusui anaknya, makin memberikan keuntungan bagi ibu dan anak dari segi kesehatannya dan perkembangannya……Tidak ada batasan pasti kapan anak harus berhenti menyusu dari ibunya. Dan TIDAK ADA BUKTI bahwa menyusui anak-anak > 3 th akan membuatnya terganggu secara psikologis ataupun." (AAP 2005)[1]

Nah kapan anak sebaiknya disapih ? Lagi-lagi ini pilihan yg sangat subyektif. Semua bergantung kepada 3 pihak : ibu-anak-ayah. Selama semua pihak saling menginginkan maka menyusui dapat terus dilakukan. Jika memutuskan utk menyapih, maka lakukanlah dg perlahan dan baik. Hindari penyapihan yg dapat menyakiti hati anak. Ingat selama masa menyusui, terjalin ikatan batin yg kuat antara ibu-anak. Jangan sampai hal ini ”rusak” karena proses penyapihan ini[1].

Referensi

  1. ↑ 1,0 1,1 1,2 1,3 1,4 1,5 Soraya, Luluk. Menyusui Batita. 2005.

menyusui dua tahun

http://asuh.wikia.com/wiki/Menyusui_dua_tahun

Hingga saat ini banyak sekali anggapan miring ttg ibu yang menyusui anaknya > 1th. Sering kita dengar kalimat ”Kalo anak > 1 th kan dah jelek ASInya”. Atau tak jarang juga terdengar kalimat ”Kalau disusui terus anak jadi manja dan gak mandiri”. Nah benarkah hal ini ? Artikel berikut dirangkum dari beberapa artikel dari La Leche League dan WHO tentang fakta-fakta seputar menyusui anak batita ( hingga umur 3 th)[1].

Ternyata anggapan2 bahwa ASI gak bagus, nyusui anak besar bisa membuat jadi manja dan gak mandiri tsb TIDAK BENAR. Bahkan, menyusui lebih dari dua tahun memiliki manfaat bukan hanya bagi anak, tetapi juga bagi ibu[1].

Kandungan ASI Pada Tahun Kedua

Menyusui dapat dilakukan hingga anak berusia 2 tahun. Menyusui dengan ASI sampai dengan usia anak mencapai 2 tahun masih mampu memenuhi 1/3 kebutuhan kalori, 1/3 kebutuhan protein, 45 persen kebutuhan akan vitamin A dan 90 persen kebutuhan akan vitamin C[2].

Bahwa ternyata kandungan ASI > 1 th memiliki kandungan yang luar biasa bermanfaat utk anak. Yg jelas, ASI tetap memiliki zat imun yang melindungi bayi dari berbagai penyakit. Bahkan satu penelitian menunjukkan bahwa beberapa zat imun meningkat jumlahnya dalam ASI di th keduam sehingga memberikan perlindungan yg lebih besar bagi anak. Belum lagi kandungan gizinya. Pada tahun kedua (12-23 bulan), setiap 448 ml ASI memenuhi kebutuhan anak [1]:

  • 29% dari kebutuhan energi-nya
  • 43% dari kebutuhan protein-nya
  • 36% dari kebutuhan kalsium-nya
  • 75% dari kebutuhan vitamin A
  • 76% dari kebutuhan asam folat-nya
  • 94% dari kebutuhan vitamin B12
  • 60% dari kebutuhan vitamin C

Referensi

  1. ↑ 1,0 1,1 1,2 Soraya, Luluk. Menyusui Batita. 2005.
  2. ↑ Blog ASI. Sepuluh Keistimewaan Pemberian ASI. 2005

referensi untuk blog ini

1. http://asioke.multiply.com
2. http://aimi-asi.org/
3. http://www.babymilkaction.org/
4. http://purnamawati.wordpress.com/
5. http://asiku.wordpress.com/
6. http://www.bfmed.org/
7. http://kellymom.com/
8. http://www.llli.org/
9. http://www.ilca.org/i4a/pages/index.cfm?pageid=1
10. http://www.onemillioncampaign.org/en/Index.aspx
11. http://www.ibfan.org/
12. http://www.ibfan.org/site2005/Pages/index2.php?iui=1
13. http://asuh.wikia.com/wiki/Kategori:ASI
14. http://www.worldbreastfeedingweek.org/

Sadar ASI Eksklusif Belum Meluas

Rabu, 23 Desember 2009 | 03:44 WIB

Jakarta, Kompas – Kesadaran kaum ibu, baik di perkotaan maupun pedesaan, untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya pada usia 0-6 bulan belum meluas. Promosi susu formula melalui iklan di berbagai media massa dan pemberian makanan pendamping ASI yang terlalu dini menjadi dua hambatan utama pemberian ASI eksklusif.

Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Mia Sutanto mengemukakan hal itu dalam diskusi AIMI, Senin (21/12) di Jakarta. ”Susu formula dan makanan pendamping ASI berisiko tinggi bagi bayi karena sistem pencernaan mereka masih lemah dan rentan bakteri,” ujarnya.

Susu formula berisiko terhadap kesehatan karena tidak ada jaminan 100 persen bebas bakteri sejak proses pemerasan hingga dikonsumsi. ”Tetapi, kalau ASI, kan langsung dari ibu ke anaknya,” kata Mia.

Wakil Ketua AIMI Nia Umar menambahkan, kaum ibu kerap memberikan makanan tambahan, seperti bubur lembut, karena merasa persediaan ASI-nya tidak mencukupi. Bisa jadi persediaan ASI-nya sebenarnya masih banyak, tetapi karena perawatan kurang tepat, ASI jadi berkurang.

Mia mengakui, kondisi untuk menyusui di Indonesia belum ideal. Selain kurang optimalnya dukungan pemerintah, ketersediaan fasilitas ruangan untuk menyusui (nursery room) di tempat umum atau perkantoran juga masih minim. ”Payung hukumnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya belum,” kata Mia.

Jika dukungan pemerintah kuat, kampanye sosialisasi ASI akan lebih mudah, terutama ke posyandu melalui konselor laktasi (proses menyusui mulai dari produksi ASI hingga proses bayi mengisap dan menelan ASI). Lagi pula untuk mencegah gizi buruk dan kematian ibu melahirkan dan bayi, ASI eksklusif ialah cara termudah, termurah, dan terbaik.

Beranggotakan 4.800 orang, AIMI berharap bisa mendorong pemerintah berpihak kepada ASI eksklusif dan menekan konsumsi susu formula. ”Susu formula masih sampai pedesaan, apalagi ketika terjadi bencana. Sayangnya banyak posyandu justru mendukung pemberian susu formula. Masyarakat harus tahu risiko susu formula dan bukan hanya kelebihannya,” kata Nia. (LUK)

Sumber : Kompas