Friday, August 20, 2010

sehat tanpa suplemen

Suplemen hanya bermanfaat untuk usia 65 tahun ke atas atau dalam kondisi tertentu.

Tak ada secuil kekurangan yang kentara dari fisik Bulan, 13 bulan. Namun, kecemasan sang Bunda membuat bocah yang sering melontarkan senyum manis itu mendapat asupan multivitamin setiap hari. Apalagi di musim hujan seperti ini, Tanti, 28 tahun, begitu khawatir buah hatinya jatuh sakit. Ibu rumah tangga yang tinggal di Bekasi ini membayangkan kepanikan yang harus dialaminya jika kondisi itu terjadi. Maka, ia pun mengambil langkah sedia payung sebelum hujan. Agar tak sakit, bocah itu dicekoki suplemen multivitamin. Apalagi, ia terpesona berbagai iklan produk suplemen multivitamin di layar kaca.

Karena itulah, dr Purnamawati S. Pujiarto, SpAK, MMPed pun meminta para ibu untuk hati-hati. Spesialis anak ini menyebutkan, suplemen itu bermanfaat hanya untuk orang berusia 65 tahun ke atas. Atau orang-orang yang dalam kondisi tertentu, seperti menopause, mengalami gangguan makan, menjalani diet rendah kalori. Juga mereka yang perokok, mengkonsumsi minuman beralkohol, melakukan diet khusus, tengah merancang kehamilan, mempunyai kelainan metabolisme, atau penyerapan makanan dalam tubuh.

Ia mengungkapkan, anak dan perempuan sering kali menjadi korban dari berbagai produk suplemen. Dengan membidik pasar kaum Hawa, di pasar saat ini telah beredar berbagai produk yang bisa mencegah banyak hal, misal penuaan, osteoporosis. Padahal, penggunaan antioksidan–dengan kandungan vitamin A, E, dan lain-lain–secara berlebihan bisa berujung pada kematian.

Dokter yang bertugas di Kemang Medical Care, Jakarta Selatan, ini menyatakan, tak hanya anak-anak yang harus dicermati dari penggunaan suplemen, orang dalam kondisi tertentu pun harus lebih hati-hati. Misalnya, ibu menyusui, ibu hamil, atau menderita penyakit tertentu, seperti hipertensi, penyakit jantung, tiroid, diabetes, memiliki riwayat stroke, glaukoma, pembekuan darah, depresi, penyakit jiwa, epilepsi, parkison, pembesaran prostat, dan transplantasi organ.

Ia pun menyindir sebuah produk yang mengandung kolustrum. "Bayangkan, berapa sapi yang dibutuhkan untuk membuat produk tersebut," ujarnya. Menurut dokter yang biasa disapa Wati ini, vitamin dan mineral memang berperan penting dalam kelangsungan proses kegiatan sel-sel dalam tubuh. "Tapi, hanya dibutuhkan dalam jumlah kecil," ujarnya. Hanya ada beberapa gangguan yang muncul akibat kekurangan vitamin, tapi berlebihan juga bisa berbahaya.

Wati menjelaskan, kelebihan vitamin yang larut dalam air–vitamin B dan C–dapat membuat beban kerja ginjal berlebihan sehingga fungsinya terganggu atau menyebabkan penumpukan dan muncullah batu ginjal. Sedangkan kelebihan vitamin larut lemak–vitamin A, D, E, dan K–bisa membebani hati yang bisa memicu gangguan fungsi hati, problem pembekuan darah, serta keracunan vitamin.

Bayangkan bila kondisi tersebut harus dihadapi anak-anak akibat ia dijejali suplemen terus-menerus. Padahal, saat ini banyak ibu yang ingin anaknya doyan makan sehingga ia membeli suplemen khusus pendongkrak nafsu makan. Padahal, kata Wati, suplemen sejenis itu belum terbukti efektif meningkatkan nafsu makan. "Dalam dunia kedokteran, belum ada yang namanya perangsang nafsu makan," ia menegaskan. Lagi pula, suplemen bukan obat yang harus menjalani uji klinis sehingga kita tidak tahu persis efektivitas dan keamanannya.

Mayoritas ibu pun ingin anaknya memiliki daya tahan super sehingga membeli suplemen khusus yang diiklankan mempunyai kemampuan menaikkan kekebalan tubuh. Wati dengan tegas menyebutkan, tidak ada obat untuk sistem imun. "Kalau tidak, kan sudah digunakan buat (penanganan) HIV," ujarnya. Hal senada juga diungkapkan spesial anak dr Zakiudin Munasir dalam kesempatan berbeda.

Zaki menyebutkan, sistem kekebalan tidak bisa diatur dengan satu hal. Walhasil, anak itu tidak perlu diberi asupan untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena yang penting ialah asupan bergizi dan seimbang. Kekebalan, seperti halnya organ tubuh lain, memerlukan modal untuk bekerja. Nah, sajian bernutrisi lengkap dan seimbanglah yang bisa mendongkrak sistem kerjanya. Wati pun menyarankan para ibu untuk menyediakan bahan-bahan makanan yang kaya vitamin dan berbagai zat yang berguna seperti tubuh, seperti serat, protein dan fitokimia. Ingat pula hasil penelitian American Academy Pediatrics (AAP) yang menyebutkan pemberian suplemen vitamin terlalu dini, justru dapat meningkatkan risiko timbulnya alergi dan asma pada anak. Walhasil, maunya anak selamat, malahan jadi menderita. Bukankah orang tua juga yang merana? RITA

Sumber : Tempo

Jarang Menyusui, Mengurangi Produksi ASI

unday, 14 June 2009

HAMIL dan melahirkan adalah anugerah terbesar bagi seorang wanita. Selanjutnya, predikat sebagai seorang ibu menjadi lengkap ketika dia berhasil menyusui buah hatinya.

Menyusui merupakan suatu aktivitas psikososial yang bisa mendatangkan kebahagiaan tersendiri,terutama bagi ibu yang baru memiliki anak pertama. Menyusui memang menjadi kodrat seorang ibu. Bahkan, jika memungkinkan, idealnya bayi lekas disusui segera setelah dilahirkan.

”Begitu terdengar lengking tangis bayi mengawali kehadirannya di muka bumi,tali pusat digunting, bayi pun ditaruh di atas perut ibu agar dapat merasakan kedekatan emosional.Si kecil pun segera mencari puting susu ibu dan mulai menetek,” kata spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli, Dr Purnamawati S Pujiarto SpA (K) MMPed.

Dia menambahkan, gagalnya seorang ibu memberi ASI eksklusif sebagian besar sebenarnya disebabkan hal yang bisa dicegah. ”Yang kurang hanya dukungan, baik dari keluarga terdekat maupun petugas kesehatannya itu sendiri,” sebutnya.

Saat menyusui, seorang ibu memerlukan ketenangan pikiran dan sebaiknya jauh dari perasaan tertekan (stres) karena akan berpengaruh terhadap produktivitas ASI dan kenyamanan bayi saat menyusu.”Kuantitas ASI juga tergantung dari isapan bayi yang dapat merangsang hormon prolaktin untuk memproduksi ASI berikutnya,” kata spesialis anak dari Sentra Laktasi, Dr Nanis Sacharina Marzuki SpA.

Mungkin itulah sebabnya ketika ibu mulai jarang menyusui produksi ASI-nya juga kian berkurang. Bahkan,menurut pengakuan beberapa ibu, ada yang ASI-nya tidak keluar sama sekali (kering).

Secara teknis,faktor penyebab berkurangnya produksi ASI, antara lain karena setelah lahir bayi tidak langsung disusui dan ASI tidak diperah.Padahal jika payudara tetap penuh, maka akan terbentuk PIF (Prolacting Inhibiting Factor), yaitu zat yang menghentikan pembentukan ASI. Sedangkan secara psikologis, berkurangnya ASI bisa disebabkan rasa khawatir, stres, rasa nyeri, dan rasa ragu yang dirasakan si ibu.

”Terkadang ibu merasa tidak percaya diri karena ASI-nya kurang. Ditambah lagi pendapat dan saran yang salah dari orang lain menyebabkan ibu cepat berubah pikiran dan jadi stres. Akibatnya bisa menekan refleks sehingga ASI tidak terproduksi dengan baik,”tutur Nanis.

Perlekatan yang tidak tepat antara mulut dan puting susu ibu juga bisa menyebabkan nyeri dan puting menjadi lecet sehingga ASI tidak keluar dengan lancar. Adapun perlekatan yang baik adalah dagu bayi menempel pada payudara ibu, mulut bayi terbuka lebar dengan bibir bawah terputar ke bawah dan sebagian besar areola (puting susu) ibu masuk ke mulut bayi. ”Untuk meningkatkan jumlah ASI, cobalah berpikir dengan penuh kasih sayang pada bayi,”saran Nanis.(inda)

Sumber : SINDO

Indonesian doctor sends her message via radio and TV

The practice of parcelling ground-up drug mixtures to treat paediatric conditions, still common in Indonesia, results in irrational drug use that threatens the health of children. An Indonesian paediatrician is using radio and television to call for the practice to stop. Cininta Analen reports.

When Sasha Jusuf’s six-month-old baby developed a fever she took her to the emergency department. “Zea had a temperature of 40°C, and was coughing,” Sasha remembers. A doctor at the hospital in Jakarta diagnosed a common cold and prescribed paracetamol and a cough syrup. But, seeing little improvement in Zea’s condition, 27-year-old Sasha went to a paediatrician the following day. He took a quick look at the baby, “diagnosed” throat inflammation – needless to say, not a disease but a symptom – and prescribed amoxycillin.

After two days on the antibiotic, Zea became extremely lethargic. Alarmed, Sasha returned to the emergency department in the middle of the night where the doctor she had seen on the first visit now discovered hives behind Zea’s ears. This time he diagnosed measles and scribbled out a list of powerful medications that included an antibiotic, an antihistamine, an anti-asthma drug and, to top it all off, an anticonvulsant. These were to be ground up into a powder by a pharmacist and given to the baby in fifteen “paediatric” packets.

WHO/Martin Weber
Piles of puyers, cocktails of medicines ground up into powder.

Such concoctions, known as puyers – derived from “powder” in Dutch – are a typical response to commonplace paediatric ailments in Indonesia. According to studies carried out in the Indonesian provinces of Bali in 2000 and West Sumatra in 2006, puyers contain on average around four active ingredients, while a national study carried out by the Indonesian Ministry of Health in 1997 reported an average number of medications per prescription of 3.49.

But the reality may be even more alarming according to a preliminary study of prescribing patterns for common paediatric ailments carried out in 2006–2007 by paediatrician Purnamawati S Pujiarto, founder of a nongovernmental organization (NGO) Yayasan Orang Tua Peduli, in collaboration with her colleague Dr Arifianto. This limited study, based on e-mail testimony from mothers aged between 26 and 30 years, found that in every case the women’s children had been prescribed mixtures of up to 11 medications for ailments that were both mild and self limiting. The most commonly prescribed drugs were antibiotics.

According to Purnamawati, more than 50% of the medicines consumed in Indonesia are prescribed, dispensed, or sold irrationally, often as a result of the grinding and compounding that is a key aspect of puyer production. “Medicines are prescribed for children when they are not needed, when they are inappropriate, when they are ineffective and when they are unsafe,” she says. The practice also leads to overuse of antibiotics and steroids, which can lead to drug resistance. Meanwhile, effective and affordable medicines that are available, including many generic medicines, are underused or not used correctly.

For Dr Sri Suryawati, a leading proponent of rational drug use in Indonesia, where she runs the International Network for Rational Use of Drugs (INRUD), polypharmacy – the prescription of many drugs at one time – is one of the biggest risks associated with the use of puyers, notably where there are adverse drug-to-drug interactions. Meanwhile, where side-effects occur, the fact that the drugs have been taken together makes it difficult to pinpoint which medicine is causing the problem. Other concerns include the likelihood of human error in mixing, contamination and lack of information for the consumer. “Puyer packets have no information on them,” says Suryawati, pointing out that this means that puyers are not in compliance with a 1992 law on complete and accurate labelling.

WHO/Cininta Analen
Dr Purnamawati S Pujiarto

Children are put at particular risk when the doctor grinds adult solid dosages to a powder, which is then divided into assumed paediatric doses. This was one of many problems underlined by a meeting in March in Geneva of the World Health Organization’s Expert Committee on the Selection and Use of Essential Medicines. In a draft report of that meeting published on the Internet, the committee concluded that puyers should not be used because “some medicines in the mixture are not indicated for the condition being treated. These medicines add to the risk of adverse events without any possibility of adding additional benefit.”

In Indonesia, there are signs that things may be changing. Suryawati takes heart from a recent government decision to include paediatric preparations in the latest revision of the Indonesian National Essential Medicine List of 2008. “This revision is extremely important as there will be no place for compounding anymore when paediatric preparations are available,” Suryawati says.

Given the powerful scientific argument against the use of puyers, why is it still commonplace in Indonesia? According to Purnamawati, one reason is convenience. “It’s easier and faster for the doctors to write the same template prescription over and over again, rather than prescribing individually and having to explain the sickness, its cause and what must be done by the patient,” she says, noting that her study revealed that doctors seldom informed parents about the cause of a given ailment. “They just repeat the symptoms as the ‘diagnosis’ – the most common being ‘a sore throat’,” she says. This practice puts the focus on medicating the symptom rather than the cause.

Inertia also plays a role: “Prescribing puyers has become a part of the health-care culture,” Purnamawati says. It is simply the way things have been done for a long time. Finally, there is the perennial issue of financial interest. “The prescribing pattern in one of our studies showed a low rate of generic prescriptions,” says Purnamawati, noting that doctors preferred to prescribe brand-name drugs likely to generate money for the providers.

WHO/Cininta Analen
Zea with her father, Jusuf. Zea is now 18 months old.

In an effort to push back against these entrenched practices, Purnamawati’s NGO has made a concerted effort to address the public directly through mass media rather than try to persuade doctors to change their ways. Since 2005, Purnamawati, has promoted the cause of rational drug use through a Be Smarter, Be Healthier campaign, which she publicizes in interviews on radio, television and the Internet. “We encourage people to get health information to reduce their dependency on curative services from doctors,” Purnamawati says, adding that a more informed public will encourage doctors to adopt rational use practices.

Needless to say the approach has upset members of Indonesia’s medical establishment. Back in February, Purnamawati spoke about puyers on a programme entitled Polemik Puyer, aired on a private television station, RCTI. The show provoked a good deal of controversy and Purnamawati was surprised by the number of doctors who spoke out against her, saying that her statements were misleading. At the same time she was encouraged by the public response. “This show encouraged a critical attitude in the general public and as a result many parents consulted me directly,” she says.

Of course not every mother has the courage to adopt this critical attitude when faced by a doctor. Sasha Jusuf certainly did not. But she did have misgivings. “When I got home, I did some research in magazines and on the Internet and I found out that at six months my baby would start teething and that the fever was a common symptom,” she says. She didn’t give Zea the puyer and after a couple of days the baby made a complete recovery. Without knowing it, she was following Purnamawati’s recommendations for people who doubt their doctor’s puyer recipe. “If there are more than two lines in the prescription don’t buy it,” Purnamawati says. ■

Source : www.who.int

Apa jeleknya sufor?-->ASI is the only thing your baby needs:-)

bbrp link menarik mengenai asi (kandungan asi) dan juga menyusui setelah 2 thn
http://www.kellymom.com/nutrition/milk/immunefactors.html
http://thestir.cafemom.com/toddler/101038/breastfeeding_a_toddler_thats_so

cb deh blogwalker ke kellymom.com banyak artikel menarik.

Thursday, August 19, 2010

Diare tidak Harus Dilawan Antibiotik

TIDAK semua balita penderita diare membutuhkan antibiotik, kecuali
dengan indikasi terserang diare berdarah. Demikian kata Guru Besar
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sekaligus
penerima Bakrie Award 2010, Prof Dr Yati Soenarto.

"Selama ini pengobatan diare pada balita selalu mengandalkan antibiotik
dan antiparasit.
Padahal tidak semua penderita diare membutuhkan antibiotik," ujar Yati,
kemarin.

Ia mengatakan pemberian antibiotik yang sembarangan justru akan
menimbulkan resistensi. Tidak hanya pada penyakit penyebab diare, tetapi
juga pada penyakit-penyakit lainnya.

"Saya dan tim menemukan penyebab terbesar penyakit diare bukan bakteri
atau parasit, melainkan disebabkan rotavirus. Temuan tersebut berimbas
pada metode pengobatan diare," ujarnya.

Menurut Yati, diare dapat diatasi dengan menerapkan beberapa langkah,
yaitu dengan memberikan oralit, zinc, air susu ibu, dan makanan.
Sementara itu, antibiotik hanya diberikan kepada penderita diare berdarah.

Pemberian oralit pun tetap menjadi solusi paling jitu untuk mengatasi
diare agar tidak berakibat fatal. “Berdasarkan hasil penelitian,
pemberian oralit terbukti mampu menurunkan angka kematian balita
penderita diare dari rasio 40/100 menjadi 7/100,” jelas Yati.

Diare masih menjadi penyebab utama kematian pada balita.

Fakta itu pula yang mendorong Yati terus menggeluti masalah tersebut.
“Sejak 1970-an diare menjadi penyebab kematian tertinggi pada balita di
dunia, dan hal itu mendorong saya untuk menggeluti lebih dalam tentang
penyakit ini.’’ Ia menambahkan, ia dan tim dari Fakultas Kedokteran UGM
sedang mengembangkan vaksin rotavirus sebagai penangkal diare. Adanya
pengembangan, selain bisa menghadirkan vaksin yang terjangkau,
diharapkan dapat mengikis ketergantungan Indonesia terhadap obat-obatan
impor. (Ant/H-1)



http://anax1a.pressmart.net/mediaindonesia/MI/MI/2010/08/18/ArticleHtmls/18_08_2010_020_016.shtml?Mode=0

8 Tanda-tanda Bayi Harus Diinduksi

era Farah Bararah* - detikHealth

*Jakarta,* Dalam proses persalinan terkadang ibu hamil membutuhkan
induksi yang bisa membantunya merangsang kontraksi. Karena itu ketahui
tanda-tanda kapan induksi dalam persalinan benar-benar diperlukan?

Bantuan induksi tidak diberikan untuk semua ibu hamil yang akan
melahirkan, karena induksi biasanya diberikan jika ada risiko yang
mungkin menimpa ibu atau bayi yang dikandungnya jika si bayi tidak
segera dikeluarkan.

Tapi bukan berarti seseorang yang diinduksi nantinya harus melahirkan
secara caesar, karena pada beberapa kasus ibu hamil tetap bisa
melahirkan secara normal.

Seperti dikutip dari /Mayo Clinic/, Rabu (18/8/2010) ada beberapa
kondisi yang membuat dokter merekomendasikan memberikan induksi pada ibu
hamil yang akan melahirkan, yaitu:

1. Belum adanya tanda-tanda kontraksi secara alami setelah lebih dari
10 hari dari waktu persalinan yang diperkirakan.
2. Sudah mengalami pecah ketuban, tapi tidak mengalami kontraksi.
3. Memiliki air ketuban yang sedikit.
4. Adanya infeksi di dalam rahim.
5. Tidak adanya air ketuban yang cukup untuk mengelilingi bayi.
6. Kondisi plasenta mulai memburuk.
7. Memiliki kondisi medis yang bisa membuat ibu dan bayinya berisiko,
seperti memiliki tekanan darah tinggi atau diabetes.
8. Bayi yang dikandung telah berhenti tumbuh dan tidak sesuai dengan
proses pertumbuhan yang seharusnya.

Biasanya dokter akan menunggu kontraksi yang muncul secara alami selama
10-14 hari dari jadwal melahirkan yang sudah diperkirakan. Karena secara
alami leher rahim pun telah dipersiapkan sebagai jalan untuk melahirkan.
Namun jika kondisi ini tidak juga muncul, maka ada kemungkinan melakukan
induksi adalah salah satu pilihan terbaik.

Hal ini disebabkan semakin lama usia kehamilan, maka bayi yang dikandung
juga akan semakin besar dan bisa mempersulit proses persalinan normal
melalui vagina.

Dalam beberapa kasus bayi yang telah melewati tanggal perkiraan
melahirkannya, memiliki kemungkinan untuk menghirup limbah atau kotoran
selama persalinan yang bisa menyebabkan masalah pernapasan atau infeksi
paru-paru.

Satu hal yang perlu diketahui bahwa induksi sebaiknya dilakukan jika
memang benar-benar diperlukan, karena intervensi yang tidak perlu bisa
menimbulkan risiko tertentu seperti harus melahirkan melalui operasi caesar.

(*ver/ir*)

http://us.health.detik.com/read/2010/08/18/151527/1422695/764/8-tanda-tanda-bayi-harus-diinduksi?l991101755

Wednesday, August 18, 2010

asi vs sufor

ASI vs SUFOR (Mbak Dayce to Milis SEHAT)

by AstroFamily Shop on Wednesday, August 18, 2010 at 8:03pm

Dari e-mail Mbak Dayce to milis SEHAT. thanks a lot Mbak =)

Mungkin kalau pertanyaan mbak diganti Apa perlunya kita memberikan sufor?

akan lebih memberikan gambaran mengenai ASI vs Sufor.

Dari jawaban2 SPs, saya belum menemukan jawaban yg sangat lengkap/tepat mengenai hal ini,I'm wondering apakah member milis sehat ada yang sering diskusi mengenai ASI di webnya AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia)?. Saya bukan member AIMI ASI tapi saya sering sekali berdiskusi dengan teman2 saya disana selain membaca buku2 tentang ASI dan pengalaman sendiri.

Saya coba jawab.

1) Pemasaran Sufor di negara2 maju vs Sufor di negara2 berkembang

Taukah ibu2, bahwa sufor di negara2 maju tidak dijual bebas seperti di Indonesia? pembelian sufor harus dgn resep dokter dan atas dasar indikasi medis. Indikasi medis ini juga harus benar2 yang mengindikasikan bahwa sang ibu sangat tidak memungkinkan utk menyusui, misalnya operasi besar sesudah melahirkan (bukan caesar ya, caesar pun bisa Inisiasi Menyusui Dini dan menyusui setelahnya) ato ketika ibu mengidap penyakit misalnya HIV. Selama itu hanya masalah fisiologis spt nipple yg kurang bagus bentuknya sehingga agak sulit menyusui, itu semuanya bisa ditindaklanjuti,ada konselor laktasi yg bisa membantu proses menyusui.

Hal ini karena di negara2 maju sudah tahu pasti (demikian juga rata2 penduduknya) bahwa SATU SATUNYA makanan yang dibutuhkan bayi hingga 6 bulan adalah ASI. Jadi ASI bukan yang terbaik bu, karena ASI itu tidak bisa dibanding2kan dgn yg lain, karena itu disebutkan SATU SATUnya.

Pemasaran sufor di Indonesia/ di negara2 berkembang kenapa sedemikian bebasnya? Karena pengetahuan tentang ASI masih sangat minim. Tidak banyak yang tahu mengenai ASI, serta cara menyusui yang tepat dan ini dijadikan celah bagi produsen2 sufor untuk melakukan kampanye pemasaran yg sering sekali melanggar kode etik (mengkampanyekan susu untuk infant : 0-6 bulan adalah melanggar hukum).Namun banyak sekali produsen sufor yg melakukan kampanye terselubung, akibatnya? para ibu merasa tidak perlu berjuang keras untuk memberikan ASI kepada anak2nya karena "toh udah ada sufor".

2) Kualitas ASI

Nutrisi ASI tidak dapat diimitasi oleh produsen sufor manapun.Ada SP yg mengatakan ASI itu tergantung kualitasnya,jgn asal kasi ASI aja.

Nah ini pernyataan kurang tepat. Inilah kekuasaan Tuhan YME yang kita patut syukuri. Dengan makanan yg bergizi tinggi memang akan membuat kualitas ASI semakin bagus, tapi apabila sang ibu pun dari kalangan yg kurang mampu misalnya,sehingga dia tidak mampu mengkonsumsi makanan yg bergizi tinggi atau let say pemulung lah, yg makanannya kurang baik, you know what? kualitas ASI-nya dia tetap lebih baik dari susu formula, sudah dibuktikan oleh berbagai riset :-)

Dalam ASI selain terdapat vitamin2 serta semua nutrisi baik yg dibutuhkan bayi anda, terdapat juga zat antibiotik serta zat2 yg dibutuhkan untuk pembentukan imunitas tubuh. Jadi ASI is the ONLY thing your baby needs during the first 6 months of his/her life.

3) Susu formula

ASI dapat diminum kapan saja,sesering mungkin,tidak ada batas pemakaian. Sufor dibatasi oleh jam, dosis, expiry date, dll.

Resiko penggunaan sufor:

1) Alergi: sufor bisa mengakibatkan alergi,diare,dll pada sebagian anak

2) Higienitas: Pada proses pemberian sufor,gampang terkontaminasi dgn bakteri apabila botol susu atau alat2 tidak steril,dan apabila salah dalam melihat tanggal kadaluarsa

3)Obesitas: ada kecenderungan obesitas karena kadar gula dan lemak yang terdapat dalam sufor cukup tinggi.

4)Kesulitan BAB: sufor sulit dicerna/diserap oleh tubuh,maka kadang dapat mengakibatkan sembelit

5)Takaran/dosis: apabila salah menakar,tentunya berefek negatif pada anak, i.e: dosis tdk sesuai usia/kebutuhan. sementara ASI? ASI menyesuaikan kualitas gizinya sesuai perkembangan usia anak, amazing isn't it?

Gendut Vs Kurus

Anak yang sehat tidak ditentukan oleh gendut atau tidaknya. Anak ASI tidak selamanya langsing (seperti anak saya dulu ndut deh padahal ASI full),selama dia masih dalam standar berat usianya, tidak perlu khawatir. Anak yang sehat justru yang bisa bergerak lincah,motorik halus dan kasarnya berkembang dengan baik. Kegemukan/obesitas pada usia bayi akan membahayakan karena ketika besar resiko terpapar penyakit2 lain seperti jantung dll.

Terakhir,

Mekanisme ASI adalah supply dan demand. Selama selalu disusuin,ASI akan bertambah banyak.Pelajarilah teknik menyusui yang baik, apabila luka ketika menyusui berarti perlekatannya belum tepat namun ada teknik untuk tetap bisa menyusui walaupun puting sakit, dll. Pelajari juga manajemen ASI yg baik, bagaimana memerah ASI,menyimpan ASI di botol, dan teknik2 menyusui yang baik. Bergabung jugalah dengan milis menyusui seperti asi for baby dan main2 ke website AIMI ASI. Supaya benar2 mengerti manfaat ASI dan "tidak menyerah" dengan memberikan sufor padahal sebenarnya tidak perlu.

Why go for second best? You want to give the VERY BEST for your children kan? jangan lupa, adalah HAK anak untuk mendapatkan ASI lho, bu. hehehe.

Salam ASI!

Cheers,DayceIbunya Kendra Medina Manan, 3 yrs 5 months.