Monday, May 30, 2011

LAYANAN KESEHATAN HEMAT KARENA BIJAK, KRITIS, DAN RASIONAL

KOMPAS, SENIN, 30 MEI 2011 21

LAYANAN KESEHATAN HEMAT KARENA BIJAK, KRITIS, DAN RASIONAL

VIDA PARADY MODERATOR "MILIS SEHAT"

tata laksana dan observasi yang di- bagikan di milis," ujar Nia Fardina,
anggota milis dari Aceh. Perluasan gerakan sudah dijalankan sejak awal.
Kegiatan paket edukasi kesehatan (pesat) yang awalnya di- lakukan di
Jakarta (2003) kini men- jangkau Aceh, Batam, Surabaya, Yogya- karta,
Bandung, Makassar, Bogor, Ta- ngerang, Bekasi, dan Sorowako. Bebe- rapa
anggota juga membentuk support group untuk ibu menyusui yang di- namakan
Klub Peduli Air Susu Ibu (Klasi). "Meskipun sulit melawan arus, lam- bat
laun dengan kesadaran konsumen yang makin tinggi, para penyedia la-
yanan kesehatan akan mengoreksi diri. Sampai sekarang mencari dokter
yang bersedia bahu-membahu untuk belajar memang sulit," ujar Alifah
Davina, asal Medan. Informasi yang tersebar di milis umumnya pengalaman
para anggota menangani anak, diskusi penyakit yang kerap terjadi, serta
tips mengatasi pe- nyakit secara rasional seusai tata laksa- na yang
diakui tenaga kesehatan global. Anggota didorong lebih cerdas mencari
informasi secara mandiri dari berbagai sumber tepercaya dan membaginya.
Peranan pasien Kegiatan milis Sehat sejalan dengan gerakan patients for
patient safety (PFPS) yang menekankan pentingnya peranan pasien dalam
me- ningkatkan kualitas dan ke- amanan pelayanan kesehat- an di seluruh
dunia. Gerakan ini digagas oleh WHO dan dimulai sejak 2004 melalui kerja
sama WHO dengan beragam organisasi dan indi- vidu di seluruh dunia.
Milis terbuka dengan moto "be sma- rter, be healthier" memilih moderator
pengatur lalu lintas informasi serta melakukan seleksi awal calon
anggota. Sebelum diterima sebagai anggota, ku- esioner yang disiapkan
moderator ten- tang data, pengetahuan, pendapat, dan pengalaman terkait
dengan pola pera- watan kesehatan anak harus diisi. Moderator juga
menyusun netiket (tata cara berkomunikasi melalui mi- lis). Jika ada
yang melanggar, sesama anggota dan moderator dapat menegur hingga
mengeluarkannya. Meskipun ada beberapa dokter yang aktif menjadi anggota
milis, diskusi di milis tidak dapat menggantikan kon- sultasi langsung.
Diskusi di milis me- rupakan sarana berbagi informasi yang akan dipakai
sebagai bekal berdiskusi dengan tenaga kesehatan. Dilandasi harapan
bergandengan tangan dengan semua pihak untuk meningkatkan kualitas
layanan kese- hatan, anggota gencar mempromosi- kan pengobatan rasional.
Komunitas ini yakin, tenaga kesehatan yang me- nolak membangun
komunikasi sejajar dengan konsumen akan ditinggalkan. Tantangan yang
biasa dihadapi ang- gota milis tidak hanya ketika ber- konsultasi dengan
penyedia jasa la- yanan kesehatan, tetapi juga lingkung- an terdekat
seperti keluarga. Tantang- an itu muncul karena anggota milis melakukan
hal-hal di luar kebiasaan, tetapi sesuai dengan panduan yang ditetapkan
WHO. Cap miring yang diterima anggota milis seperti "kemin- ter",
anti-obat, anti-dokter, tidak sa- yang anak, dan anggota milis sesat pun
kerap didapat. Dari sisi pemberi layanan kesehat- an, konsumen yang
kritis bisa dipan- dang sebagai ancaman karena me- miliki tuntutan lebih
tinggi. Tuntut- annya adalah tenaga kesehatan lebih transparan, bersedia
memberi penje- lasan lebih, dan memandang konsu- men sebagai mitra
sejajar. (INU) eskipun tidak pernah sa- ling bertemu, acara Fun Family
Day Milis Sehat di Sekolah Cikal, Jakarta Se- latan, akhir April lalu
penuh keakrab- an. Di bawah pohon rambutan yang meneduhi lapangan
rumput, semua yang datang membaur dan bergembira. Kebersamaan, yang
sebelumnya hadir diperantarai e-mail di mailing list (mi- lis) Sehat,
hadir juga Sabtu pagi itu. Sambil menggendong anak bayinya, Irfan Hakim
memecah pagi dengan menyapa anggota milis Sehat yang berdatangan dari
berbagai penjuru Ja- karta membawa anak, istri, suami, orangtua, bahkan
pembantu mereka. Dibantu Margreta Feronica Ratuliu, acara dimulai dengan
berbagi peng- alaman menghadapi anak sakit dan perjumpaan mereka dengan
milis Se- hat.Mona, yang menikah pada usia 21 tahun, panik ketika
mendapati anak- nya sakit. Karena panik, semua nasihat diikuti.
Kepanikan tidak berkurang, tetapi justru bertambah. Namun, se- telah
bergabung dan mengikuti arus informasi di milis Sehat, kepanikannya
tidak lagi muncul. "Karena saya tidak panik, suami saya yang panik,"
ujar Mona tersenyum mengenang. Apa yang dialami Mona juga dialami Irfan
dan istrinya. Mereka mengaku mendadak pintar karena mendapat ilmu dari
sesama anggota milis yang dirintis akhir 2003. Milis Sehat muncul karena
ingin memberdayakan pasien dan konsumen medis agar lebih paham kesehatan
sehingga men- jadi mitra sejajar tenaga kesehatan. Pencetusnya adalah dr
Purnamawati S Pujiarto SpAK MMPed. Dimulai dari kiriman informasi ke-
sehatan dan tata laksana penyakit me- lalui e-mail dari dr Wati ke para
pasien- nya, milis Sehat kini berkembang dari 19 anggota jadi lebih dari
11.500 ang- gota. Anggota dengan beragam profesi dan latar belakang
tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan beberapa ne- gara. Anggota
milis Sehat disatukan keprihatinan terhadap kualitas pela- yanan
kesehatan di Indonesia. Penghematan Manfaat nyata lainnya adalah peng-
hematan anggaran layanan kesehatan. Frekuensi kunjungan ke tenaga ke-
sehatan jauh berkurang dan belanja obat turun drastis. Hal ini terjadi
ka- rena sebagian besar penyakit anak me- rupakan common problem yang
dapat ditangani di rumah. "Dana yang dahulu kami habiskan untuk membeli
berbagai obat sudah dialihkan ke tabungan pendidikan anak. Sebelum kenal
milis, anak batuk saja, saya heboh ke dokter dan men- dapat resep dengan
banyak obat. Sekali kunjungan menghabiskan sekitar Rp 500.000. Sekarang
kami hanya sedia parasetamol dan oralit di rumah. Kalau anak terinfeksi
virus, cukup mengikuti M Moderator Milis Sehat: Romzy Alkatirie, M
Hafiizh, Luluk Soraya, Vida Parady, Hanny Adam, Gendi, Maureen, Samsul
Abidin. KOMPAS/AGUS SUSANTO Internet menjadi salah satu cara masyarakat
menambah pengetahuan dalam bidang kesehatan.

http://ipad.kompas.com/default.aspx?iid=48775&startpage=page0000021

Friday, May 27, 2011

ASI, KASIH sayang dan SOLIDARITAS

Dear All,
Just Repost kisah ttg perjuangan seorang ibu untuk memberikan ASI
kepada babynya.
Cerita ini ditulis oleh mba Ira-Tim KLASI Bandung (punten repost ya mba) :)
Untuk memberikan ASI, tidak dibutuhkan alat2 yang canggih dan biaya
yang besar. Modal pemberian ASI adalah niat dan tekad yang kuat dari
sang ibu.

Salam ASI,
-Niken-

=================================================================

ASI, Kasih Sayang, Pengorbanan dan Solidaritas antar Sesama Manusia

Bagi saya pribadi, bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan kepada bayi memiliki
makna yang luas, bukan semata-mata memberikan asupan yang terbaik untuk bayi
atau terciptanya bonding (ikatan batin) yang kuat antara ibu dan bayi,
tetapi lebih dari itu. Dari ASI, saya mendapatkan pelajaran hidup yang
sangat berharga, membuat saya lebih bisa memaknai hidup, serta lebih
mensyukuri nikmat dan karunia Maha Pencipta.

Salah satu dari sekian banyak yang pernah saya lalui bersama ASI adalah
cerita perjuangan Mba Kemijem, saya punya alasan kenapa cerita Mba Kemijem
yang saya angkat kali ini, karena dalam cerita ini betapa banyaknya Mba Kemi
(nama panggilan Mba Kemijem) menghadapi rintangan dengan segala
keterbastasan yang dimilikinya, ia tidak pernah menyerah, dalam cerita ini
teman-teman di uji rasa solidaritas dan keikhlasan kami ketika membantu Mba
Kemi.

Mba Kemi adalah seorang buruh pabrik yang pada waktu itu sedang hamil anak
kedua, orangnya tidak banyak bicara, setiap mengikuti kelas asi di musola
hanya diam mendengarkan saya membaca artikel tentang ASI. Suatu hari saya
tembak dia dengan bertanya mengenai rencana Mba Kemi melahirkan bayinya.
Jawabannya saat itu adalah “saya belum tau, sepertinya saya akan melahirkan
di Jawa Tengah kampung halaman saya, dan saya akan menitipkan bayi saya pada
orang tua saya di kampung ketika nanti cuti melahirkan habis. Sebab untuk
melahirkan di sini tidak memungkinkan, nanti setelah saya masuk kerja siapa
yang akan mengurus bayi saya”

Mendengar jawaban Mba, saya bertanya lagi, “Apa Mba ngak kepengen memberikan
bayinya ASI Ekslusif ?” Mba hanya tersenyum menanggapi pertanyaan saya.
Sejak saat itu saya mulai berfikir keras bagaimana caranya supaya bisa
membantu si Mba agar mau berjuang memberikan ASI Ekslusif u bayinya. Saya
ngak banyak memaksa mba, saya cuma mengajak dia untuk
rajin datang ke musola sama-sama belajar tentang ASI. Saya membayangkan
bagaimana jika saya berada diposisi mba dengan
segala keterbatasannya, saat itu yang bisa saya lakukan adalah berusaha
membangkitkan semangat Mbak Kemi untuk mau “berjuang” demi ASI.

Alhamdulillah Mba rajin sekali hadir di musola, sesekali saya tanya “Mba
artikel asinya, suka di baca ngak di rumah ?”, Mba menjawab “Sering bu,
malah kalo saya cape suami saya yang membacakan artikel tsb untuk saya”.
Dalam hati saya bersyukur sekali mendengar jawabannya, berarti sudah ada
kemauan dari Mba dan suaminya.

Hari-hari pun berlalu, sesekali saya lontarkan pertanyaan pada mba tentang
rencana melahirkan bayinya, jawabannya masih sama dengan jawaban peratama.

Ketika kehamilannya semakin besar ada perkembangan yang mengejutkan akhirnya
mba mulai berubah pikiran, mba berniat melahirkan di Rancaekek tempat Mba
dan Suaminya bermukim saat itu.
Namun ternyata persoalannya tidak semudah itu, kendala yg dihadapi oleh mba
adalah pertama dia harus mencari pengasuh bayinya, yang kedua adalah
kontrakan tempat tinggal mba tidak memiliki daya listrik yang cukup untuk
menyalakan sebuah kulkas dan memiliki daya listrik yg kecil yaitu 225 watt,
dipakai untuk menyalakan tv, lampu, akuarium , radio, rice cooker dll
maka kalo kalo ditambah kulkas tidak akan kuat alias pasti ngejepret.
Mendengar hal tsb saya menarik napas panjang dan sekali lagi memahami
kondisi mba sambil ikut berpikir mencarikan solusi.

Untuk persoalan pertama mengenai pengasuh bayinya, Mba dan suaminya berusaha
mencari, ada yang bersedia tapi bayinya
di asuh di rumah yang ngasuh bukan di rumah Mba Kemi, yah apa boleh buat
daripada ngak ada sama sekali yang ngasuh bayinya selama di tinggal ibu
bapaknya kerja. Satu masalah selesai, persoalan berikutnya adalah tempt
penyimpanan ASI yaitu kulkas. Saya menyarankan bagaimana dititip di
tetangga, ya coba deh PDKT sama tetangga siapa tau ada yang bersedia
dititipi ASI perah di frezzer kulksnya. Ternyata tetangga-tetangga nya pun
tidak memiliki kulkas. Berarti harus cari jalan lain untuk menyimpan stok
ASI.

Di dalam kumpulan artikek ASI yang saya bagikan pada temen2 pabrik, ada
tulisan dr Utami Roesli, bahwa tidak memiliki kulkas tidak menghalangi
seorang ibu bekerja untuk tidak bisa memberikan ASI ekslusif 6 bulan pada
bayinya. Dan kebetulan juga ada seorang teman pabrik pernah mempraktekan
menyimpan ASI di termos ketika dia dan bayinya harus menginap beberapa hari
di kontrakan suaminya yang tidak ada kulkas. Saya, Mba Kemi dan teman
lainnya jadi ikut sama-sama belajar tips-tips menyimpan stok ASI dalam
termos. Saya optimis insya allah masalah ngak punya kulkas sudah bukan
menjadi kendala Mba Kem. Selanjutnyauntuk memotivasi mba, saya berburu
tulisan ibu2 menyusui dengan berbagai kendala yang harus mereka hadapi tapi
tetap bisa lulus ASIX.

Akhirnya Mba Kemi mulai masuk masa cuti, hari-hari terakhir bertemu Mba di
musola, Mba dan suaminya sudah bertekad bulat
untuk melahirkan di Rancaekek. Terharu rasanya, saya jadi bangga dan kagum
pada mereka yang mau berjuang demi ASIX. Pesan terakhir saya “Mba kalo ada
apa-apa jangan sungkan-sungkan untuk hubungi saya, mudah2an saya bisa
bantu”.

Sebulan kemudian saya mendapat kabar dari suami Mba bahwa Mba sudak
melahirkan bayi laki-laki dengan operasi caesar di RS
terdekat, Mba dan si bayi sehat walafiat, alhamdulillah. Namun saya mendapat
kabar buruk, yaitu mba tidak di beri kebebasan oleh petugas RS untuk menemui
dan menyusui bayinya dengan alasan karena Mbak melahirkan caesar. Segera
setelah mendengar kabar tersebut saya sharing dengan teman-teman dan Tim
Klasi Bandung (Dinny dan Linda). Mendengar kabar ini Linda dan Dinny
tergerak hatinya untuk mengunjungi Mba Kemi di RS. Karena pada waktunya itu
kita sedang sibuk-sibuknya di kantor masing-masing, kita baru bisa
mengunjungi mba keesokan harinya.

Lokasi tempat kami kerja dengan rumah sakit lumayan jauh, Linda berangkat
dari Dago dan Dinny dari Ujung berung, kalo saya sih masih keitung dekat.
Kami bertiga tiba di RS dan menemui Mba, mendengarkan cerita Mba dipersulit
oleh petugas RS untuk bisa bertemu dan memberikan ASI pada bayinya, kemudian
kami bertiga berusaha mencari tau bagaimana fakta yang sebenarnya dengan
bertanya kepada beberapa petgas yang sedang berjaga saat itu. Rupanya
memberikan ASIX belum menjadi prosedur utama di RS tsb, lalu kami menemui
manajemen RS, berusaha menyampaikan keluhan dan keinginan kami, mba pun
diberi kemudahan untuk bisa menemui dan menyusui bayinya. Setelah urusan
selesai kami kembali ke tempat kerja kami, di luar RS saat itu hujan deras,
Dinny sedang hamil besar berdua Linda kembali ke Bandung naik angkot, salut
pada Dinny dan Linda yang mau jauh2 datang untuk memberikan support pada Mba
Kemi, terima kasih teman2

Alhamdulilah setelah kami mengunjungi RS, Mba bisa bebas bertemu bayinya,
meskipun kadang mba musti sedikit ngotot pada petugas.. Semangat mba patut
di acungi jempol. Meskipun menemui kendala, mba ngak mudah putus asa, mba
ngak sungkan meminta bantuan pada kami, empat hari di RS akhirnya mba dan
bayi laki2nya diijinkan pulang, saya dan mba masih sering kontak lewat sms.

Hari-haripun berlalu, tak terasa mba sudah waktunya untuk masuk kerja lagi,
masalahnya mba ngak punya kulkas menyimpan stok asinya. Tetangga ngak ada
yang punya kulkas, mencari warung yang menjual es batu pun ternyata ngak
semudah yang dibayangkan (tadinya sayang pikir pasti banyak warung yang
menjual es batu dan bisa langganan beli es batu setiap hari)
unttuk mencari es batu, suaminya harus mencari kesana kemari dan akhirnya
bisa dapat es batu dari warung yang letaknya jauh dari kontrakannya.

Sampai disini kok jadi saya yang pesimis, namun rasa pesimis itu saya
singkirkan, dan tetap memberikan semangat pada mba dan suaminya. Mba dan
suami setiap hari sama-sama berjuang menghadapai segala macam kendala dan
keterbatasan demi ASI (mba harus ektra usaha memanage stok asi, suaminya
berburu es batu, mba yang buruh pabrik dengan jam kerja shift harus
meluangkan waktu di sela waktunya setiap 2 jam kerja memerah asi, sering
kali mba harus kejar-kejaran stok asi dll). Belum mba dan suami mendapat
cemoohan dari lingkungan sekitar yang tidak mendukung pemberian ASIX, bahkan
pengasuh bayinya pun sempet ngeyel untuk memberikan bayi mba susu formula
dan MPASI sebelum usia bayi 6 bulan.
Mba dan suami menghadapi berbagai rintangan yang cukup berat, namun mereka
pantang menyerah untuk terus berusaha memberikan ASIX pada bayi mereka. Dan
alhamdulillah sepanjang yang saya ikuti perkembangannya bayi mereka tumbuh
dengan sehat.

Lama tidak mendengar kabarnya, waktu itu saya sudah tidak bekerja dan sedang
repot-repotnya persiapan pindah rumah ke Jakarta. Tiba2-tiba saya mendapat
sms dari mba yang mengabari bahwa saat itu mba di diagnosa demam berdarah
dan harus di opname. Masalahnya stok asi untuk bayinya tidak cukup, mungkin
karena mba sakit jadi asinya kurang, hebatnya mba ngak menyerah dia tetap
memberikan asinya.

Saya ingat betul waktu itu hari kamis 2 juli 2009 dimana saya sedang ada
urusan dan masih ada beberapa yang belum beres untuk kepindahan rumah saya.
Tiba-tiba dapat sms lagi dari Mba, segela saya telepon balik, ternyata mba
sudah di opname, mba tetap memerah asinya (atas sepengetahuan dokter yang
merawatnya), tapi stoknya tidak cukup karena si bayi sedang rakus-rakusnya
minum Asi. Saat itu saya merasa tidak ada yang bisa saya perbuat, untuk
menolong mbak, akhinya saya menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat ibu bisa
memberikan susu formula pada bayinya sebagai jalan terakhir. Tau ngak apa
tanggapan dari Mba Kemi “... tapi kalo bayi saya diberi susu formula sayang
bu, karena sebentar lagi lulus ASIX”. Ya Allah mendengar tanggapan mba, pipi
saya serasa di tampar keras sekali, saya malu dan merasa egois sekali, dalam
kondisi begini hanya karena sedang sibuk dan tanpa mau berusaha berpikir
panjang membantu Mba Kemi, saya dengan entengnya menyarankan bayinya mba di
beri susu formuka. Padahal selama ini sejak awal mba hamil saya selalu
mendorong mba untuk berjuang demi asix. Saya lupa bisa menyusui anak kedua
saya sampai detik ini (2 tahun 2 bulan) juga karena dukungan dan bantuan
teman-teman saya. Masa kali ini saya ngak bisa apa-apa untuk membantu mba
yang benar-benar sedang membutuhkan pertolongan

Akhirnya tanpa pikir panjang saya tawarkan apakah mba mau menerima donor
asi, kalo mau syaa usahakan hari itu juga mencari
donr asi dan kalo sudah dapat akan segera saya antar ke RS, mba mau menerima
donor asi. Segera saya sebar pengumuman melalu sms ke teman2 saya untuk
mencari donor asi, alhamdulillah waktu itu dalam kondisi singkat dapat
jawaban dari dinny bahwa dia bersedia mendonorkan asinya. 10 botol ASI saya
ambil di kantor Dinny (Dinny sempat ngambil botol2 tersebut di rumahnya).
Dinny memang punya stok asi yang bisa didonorkan. Padahal sebenarnya saat
itu dinny juga sedang kejar-kejaran stok memenuhi kebutuhan bayinya,
subahanalloh saat itu keikhlasan kami sedang di uji saat itu yang kami
pikirkan hanya 1, bayi mba kemi tidak boleh kehabisan asi. Jam 12 asi donor
dari dinny berhasil di antarkan dan sampai ke tangan suami Mba Kemi.
Alhamdulilalh lega sekali rasanya. Beberapa hari kemudian saya dapat kabar
mba sudah keluar dari RS. Mba mengucapkan terima kasih karena asi donor dari
dinny menyelamatkan bayinya dari sufor, alhamdulillah.

Waktu pun berlalu, saya pindah ke jakarta. Suatu sore saya mendapat telepon
dari suami mba, dia curhat bnyinya ngak mau menyusu ke ibunya, di beri dot
juga susah ngak mau sama sekalu minum asi, saya menyarankan untuk
menghentikan pemberian dot, diganti dengan menyuapi asi pakai sendok dan
untuk mengatasi supaya mau menyusu langsung ke payudara ibunya dicoba dengan
berbangai cara dengan kesabaran dan kasih sayang insya Allah bisa teratasi.

Setelah curhatan itu, saya ngak dapat kabar apa-apa lagi dari Mba Kemi
sampai tanggal 31 Juli 2009 saya dapat sms dari mba yang mengabarkan bahwa
bayinya sudah lulus asi ekslusif, subhanalloh alhamdullilan membaca sms Mba
Kemi mata saya berkaca-kaca mengingat beratnya cobaan yang harus di alami
Mba Kemi dan suami lalui, oh iya alhamdullilah bayinya sudah mau menyusu
langsung ke ibunya.
Rasa syukur dan bangga sekali pada mba dan suami. Bravo mba. Dalam smsnya
mba menuliskan kata-kata “ betul ya bu, kalau kita mau usaha dan berdoa
ternyata bisa dan Allah selalu memberikan jalan untuk kita” iya mba, allah
memang memberikan jalan karena mba dan suami tidak mau menyerah pada
keadaan.

Dari cerita perjuangan Mba Kemi, saya mendapat pelajaran hidup, asi telah
menyeret hati nurani saya untuk selalu berbagi dan berusaha sekuat tenaga
untuk membantu sesama ibu yang ingin bisa menyusui bayinya.
Ketika bertemu dengan ibu yang mengalami kesulitan memberikan asi, kita
harus berada di pihaknya, berusaha mengerti dan memahami apa saja kesulitan
yang sedang dihadapi, dukungan yang besar dari lingkungan sangat berarti
untuk ibu sedang mengalami kesulitan menyusui (itu lah yang saya rasakan).

Bagi ibu yang sampai saat ini masih menemukan kendala dalam memberikan asi
pada bayinya berusahalah ibu, jangan menyerah berkacalah pada kisah
perjuangan Mba Kemijem yang tetap berjuang pantang mundur menghadapi
berbagai rintangan dengan buah cintanya.
Menjadi seorang ibu adalah perkerjaan yang mulia meskipun mengemban tugas
yang berat memelihara, menjaga dan merawat
anak2nya, tuhan telah memilih kita untuk menjalaninya jalanilah dengan penuh
kesabaran keihlasan dan cinta.

Akhir kata mudah-mudahanan tulisan ini bisa menggugah hati kita semua yang
saling peduli dan berjuang pantang menyerah agar bayi-bayi bisa mendapatkan
haknya yaitu asi.

Ira Indiana - Tim KLASI Bandung

Wednesday, May 11, 2011

Menyapih Anak dari Botol Susunya



Felicitas Harmandini | din | Rabu, 14 April 2010 | 18:23 WIB

SHUTTERSTOCK
Tawarkan cara lain untuk melepaskan botol susunya, misalnya dengan memberinya straw cup.

KOMPAS.com - Buat si kecil, meminum susu di dalam botolnya adalah suatu pengalaman nikmat tiada tara. Botol dan susunya tak beda dengan selimut hangat atau boneka beruang kesayangannya. Ketika Anda bepergian bersamanya, dan persediaan susu telah habis, si kecil bagaikan sedang "sakau" minum susu. Gelisah, uring-uringan, dan merepotkan.

Ketika sudah waktunya bagi mereka untuk belajar menggunakan gelas untuk minum susu, tantangannya berikutnya menanti. Berpisah dengan botol susu bukanlah ide menarik untuk si kecil. Meninggalkan botol sama rasanya dengan meninggalkan teman baiknya. Namun, Anda memang harus tega menggusur botol susunya itu.

Yang perlu Anda lakukan saat menerapkan latihan ini adalah kegigihan, ketekunan, dan selalu mengingat bahwa latihan ini akan berhasil. Buktinya, Anda tak pernah melihat murid TK masuk sekolah sambil membawa botol susunya, bukan? Berikut langkah yang bisa Anda lakukan:

Singkirkan botolnya
Menyapih anak memerlukan komitmen yang tinggi. Ketika Anda memutuskan ini waktunya anak berhenti menggunakan botol susu, sebaiknya botol susu pun tak lagi beredar di dalam rumah. Menyimpan botol di meja atau rak piring hanya akan membuat si kecil terus merengek dan mempersulit transisinya.

Cara satu-satunya: singkirkan botol tersebut dan pastikan si kecil melihat Anda melakukannya. Masukkan botol susu ke dalam tas, dan katakan pada anak bahwa Anda akan memberikan botol tersebut kepada anak lain yang lebih membutuhkan. Ajak anak membawanya ke kotak pos, ucapkan perpisahan, dan minta ia tetap tabah.

Tukarkan
Bila si kecil belum bersedia melepaskan botol susunya, Anda bisa menawarkan alternatif untuk memikatnya. Misalnya, dengan memberikan sippy cup (gelas yang diberi penyedot) sebelum benar-benar mengharuskannya menggunakan gelas. Atau, Anda bisa memberikan susu cokelat sebagai pengganti susu putihnya yang biasa. Anda harus hati-hati, agar anak yang tergolong pemilih tidak lantas memilih jenis minuman yang kurang bergizi.

Tekunlah
Tentu akan ada "pemberontakan-pemberontakan" kecil saat menjalani proses ini. Entah ia menangis sepanjang waktu, terjadi temper tantrum, atau ia bersikeras tak mau minum susu. Apapun yang terjadi, jangan menyerah. Anda telah membuat keputusan untuk menyingkirkan botolnya untuk alasan yang tepat, jadi tetaplah dengan rencana Anda. Proses ini tak akan mudah, namun bila Anda melunak, Anda hanya akan mempersulit kemajuan si kecil dan Anda sendiri.

Botol Susu Picu Kegemukan Anak


Botol Susu Picu Kegemukan Anak
Asep Candra | Jumat, 6 Mei 2011 | 08:25 WIB



KOMPAS.com — Anak yang minum dari botol susu hingga umur 2 tahun
berisiko kegemukan 30 persen lebih tinggi pada usia 5 tahun daripada
anak yang minum dari gelas.

Pemakaian botol susu mendorong konsumsi kalori berlebih. Karena itu,
sejak anak berusia enam bulan perlu dikenalkan minum dari gelas dan
penggunaan botol susu dihentikan sejak anak 1 tahun.

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Pediatrics itu menganalisis
7.000 anak di seluruh Amerika Serikat. Rachel Gooze, salah satu peneliti
dari Pusat Penelitian Obesitas dan Pendidikan, Universitas Temple,
Philadelphia, mengatakan kepada BBC, Kamis (5/5/2011), anak perempuan
berumur 2 tahun dengan berat dan tinggi badan seimbang yang menggunakan
botol susu berkapasitas 8 ounce (sekitar 250 gram) akan menerima
kelebihan kalori hingga 12 persen dari yang dibutuhkan dalam satu hari.
(BBC/MZW)


http://health.kompas.com/read/2011/05/06/08250047/Botol.Susu.Picu.Kegemukan.Anak

Sunday, May 1, 2011

akad persusuan ( ibu susu)

Zaszima Abu-Samah created the doc: "Akad Persusuan (Milk Agreement)"

Source: http://muslimah.or.id/fikih/tuntunan-akad-persusuan.html

Tuntunan Akad Persusuan

Alhamdulillah, syariat Islam begitu lengkap dalam mengatur setiap seluk kehidupan umat manusia. Termasuk dalam hal penyusuan dimana perkara ini memang sangat penting mengingat masa-masa awal kehidupan seorang manusia (yang masih berwujud bayi tak berdaya), sangat bergantung pada air susu seorang ibu. Namun ada kalanya seorang ibu kandung tidak dapat atau terhalang dari menyusui sehingga diperlukan ibu susuan lain bagi sang bayi – walaupun disana telah ada susu formula, namun tetap yang terbaik dan sesuai dengan kemampuan cerna seorang bayi adalah yang keluar dari seorang ibu (manusia) -. Dalam hal ini, maka seorang suami dapat meminta wanita lain untuk menyusui anaknya (istirdhaa’).

Syarat Akad Penyusuan

Dalam kitab Al-Mughni (V/278), para ulama menetapkan empat syarat dalam melakukan akad penyusuan. Syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Harus jelas berapa lama masa penyusuan yang dilakukan. Sebab tidak mungkin menentukan upah susuan kecuali setelah masa penyusuannya diketahui, yang tentunya akan berbeda upahnya sesuai dengan kesepakatan.
  2. Melihat langsung kondisi bayi yang akan disusui. Sebab ada tidaknya perbedaan dalam penyusuan teragantung kepada besar kecilnya serta lahap dan tidaknya bayi yang akan disusui.
  3. Tempat penyusuan, karena berbeda antara satu tempat dan lainnya, bisa jadi merepotkan ibu susu jika dilakukan di rumah si bayi, sebaliknya akan menyenangkan jika dilakukan di rumah sendiri (rumah ibu susu).
  4. Mengetahui dengan jelas nilai upah yang disepakati.

Upah Ibu Susuan

Ketika seorang ibu susuan memang dalam akadnya akan diberi upah (karena bisa jadi seorang ibu susuan sekedar menolong dan tidak menginginkan untuk diupah) maka para ulama berselisih pendapat tentang wujud dari upah tersebut, apakah berupa makanan dan pakaian atau berupa nilai uang.

Menurut satu riwayat dari madzhab Ahmad , bahwa boleh menyewa wanita susuan dengan imbalan makanan dan pakaian berdasar firman Allah Ta’ala, yang artinya:

… Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf…” (QS/ Al-Baqarah: 233)

Pada ayat di atas, Allah mewajibkan memberikan nafkah dan pakaian kepada wanita yang menyusui tersebut. Ini juga merupakan madzhab Abu Hanifah rahimahullah.

Namun ulama lain – imam Syafi’i, Ibnu Mundzir, salah satu riwayat dari Ahmad -, hal itu tidak dibolehkan karena perbedaan yang mencolok dalam nilai. Padahal syarat sahnya akad penyusuan harus diketahui berapa nilai uang yang harus diberikan sebagai imbalan. Sementara Imam Malik dan Ishaq berpendapat secara umum akad ijarah (jual jasa) dengan imbalan makanan atau minuman dibolehkan (termasuk dalam hal menyusui).

Apa yang dikatakan pengarang kitab Al-Mughni dalam hal ini bisa menjadi “penengah”, yaitu, “Apabila syarat pengupahan berupa pakaian dan maknaan yang sudah jelas ciri-cirinya, maka hal itu dibolehkan menurut kesepakatan ulama.” Allahu a’lam.

Isi Akad Penyusuan

Isi akad perjanjian adalah berkenaan dengan air susu, bukan perawatan bayi. Apabila wanita tersebut hanya menyusui bayi tanpa memberikan perawatan terhadap si bayi, maka wanita tersebut sudah berhak menerima upah. Apabila wanita tersebut hanya memberikan perawatan saja tanpa menyusuinya maka ia tidak berhak mendapatkan upah tersebut, berdasarkan firman Allah Ta’ala, yang artinya:

…kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu, maka berikalanlah kepada mereka upahnya” (QS. Ath-Thalaq: 6)

Yang dikecualikan dari kasus ini adalah apabila kedua pihak sepakat untuk merawat bayi, atau kebiasaan masyarakat yang berlaku di tempat tersebut bahwa akad menyusui termasuk di dalamnya merawat anak. Sehingga upah merawat maka sudah termasuk dalam akad. Wallahu a’lam.

Siapa yang Menjadi Ibu Susuan?

Siapa saja dapat menjadi ibu susuan selama ia mendapat izin dari suaminya. Jangan sampai hak-hak suaminya tidak terpenuhi karena kesibukannya menyusui dan merawat bayi orang lain.

Apabila Si Bayi Meninggal

Ibnu Qudamah berkata, “Apabila si bayi meninggal dunia, maka akad tersebut batal, karena mustahil untuk diteruskan dan tidak mungkin bayi lain dapat menempati posisi bayi yang sudah meninggal, karena adanya perbedaan kuat tidaknya seseorang bayi dalam menyusu dan demikian juga adanya perbedaan khasiat air susu untuk masing-masing bayi.”

Kemudian beliau rahimahullah melanjutkan, “Apabila akad tersebut batal dikarenakan kematian bayi, maka perjanjian sewa-menyewanya juga batal dan ibu susuan harus mengembalikan uang yang telah diterima. Apabila hal itu terjadi ketika susuan berlangsung, maka ibu susuan harus mengembalikan sisa uang dengan waktu yang tersisa.”

Di antara ulama madzhab Syafi’i ada yang berpendapat bahwa akad tersebut tidak batal selama ibu susuan masih ada, karena kendala terletak pada bayi yang meninggal dunia. Apabila pihak keluarga bayi dan pihak wanita yang menyusui sepakat untuk menggantinya dengan bayi lain, maka penyewan tersebut terus berlangsung. Jika tidak maka akad tersebut dianggap batal. Demikian yang dikatakan oleh pengarang kitab al-Majmuu’.

Apabila Ibu Susuan Meninggal

Apabila wanita susuan tersebut meninggal dunia, maka akad tersebut dianggap batal karena inti penyewaan sudah tidak ada.

Demikian pendapat yang diriwayatkan oleh Abu Bakar dari kalangan madzhab hambali. Sebagian ulama madzhab Syafi’i berpendapat bahwa akad tersebut batal dan sisa uang sewa yang ada digunakan untuk mencari wanita lain yang mau menggantikan posisi wanita yang meninggal tadi hingga masa yang telah disepakati usai. Karena hal itu ibarat hutang yang harus dibayar. Allahu a’lam.

***

Artikel muslimah.or.id

Disusun ulang oleh tim muslimah.or.id dari Buku Ensiklopedia Anak Tanya Jawab Tentang Anak Dari A sampai Z karya Abu Abdillah Ahmad bin Ahmad Al-Isawi

Dimurajaah oleh Ust Ammi Nur Baits

Saturday, March 5, 2011

Air Susu Ibu, 20 Kali Lebih Hebat

http://kesehatan.kompas.com/read/2009/12/14/17203189/Air.Susu.Ibu..20.Kali.Lebih.Hebat

KOMPAS.com - Pemberian ASI secara eksklusif dan optimal akan membuat bayi tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Bagaimana tidak? ASI mengandung 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi 20 kali lipat.

Menurut Dr. Utami Rusli, Sp.A. MBA IBCLC, spesialis anak di RS St. Carolus Jakarta, di dalam ASI terkandung lebih dari 200 unsur zat yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Zat-zat itu antara lain putih telur, lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, hormon pertumbuhan, berbagai enzim, zat kekebalan, dan lain-lain.

Sayang sekali masih banyak orang yang tidak paham betul bahwa ASI memiliki nilai yang tiada tandingannya dibandingkan dengan susu formula atau makanan tambahan lain. Kenyataan ini mesti disosialisasikan secara lebih gencar dan terus-menerus.

Kelebihan ASI pertama-tama terletak pada kekhususannya. Susu kuda sangat cocok untuk bayi kuda, susu jerapah bagi bayi jerapah. Bayi manusia juga akan jauh lebih baik jika diberi susu yang paling cocok, yakni ASI, bukan susu hewan.

Karena itu, ASI sering kita kenal dengan sebutan ASI eksklusif (exclusive breast feeding). Selain khusus karena berasal dari spesies yang sama, yakni manusia, kandungan ASI bisa menyesuaikan kebutuhan bayi dengan perkembangan usianya.

ASI yang keluar saat kelahiran sampai hari ke-4 atau ke-7 disebut kolostrum. ASI yang keluar di hari ke-7 sampai ke-10 atau ke-14 setelah kelahiran disebut ASI transisi. ASI yang keluar sesudah hari ke-14 kelahiran disebut ASI matang. Komposisi gizi ketiga jenis ASI tersebut masing-masing berbeda.

“Bahkan terdapat perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit,” tutur Ketua Pemasyarakatan Pemberian ASI Eksklusif RS St. Carolus Jakarta ini. Misalnya saja kandungan lemak pada ASI saat bayi berumur 3-5 hari adalah 1,85 g/dl. Pada saat usia bayi 15-18 hari, kandungan lemak itu menjadi 3,06 g/dl.

30 Menit Setelah Lahir
Pada hari pertama setelah melahirkan, kandungan gizi ASI sangat tinggi. Dr. Utami pun selalu menganjurkan agar selambatnya 30 menit atau setengah jam setelah lahir, bayi harus segera disusui ibunya. Pada saat itu susu ibu menghasilkan kolostrum, susu jolong, atau susu awal yang warnanya kekuningan dan encer.

Kolostrum ini kaya zat gizi dan antibodi yang berfungsi untuk melindungi bayi dari infeksi. Kolostrum akan muncul lagi 30 jam kemudian. Itu artinya kalau bayi tidak segera mendapat kolostrum pertama, dia kehilangan zat bergizi tinggi dari ibunya.

Walaupun bayi masih punya kesempatan untuk mendapatkannya, produksi kolostrum selanjutnya hanya 30 mililiter sehari. Itu artinya, kolostrum diproduksi hanya satu mililiter dalam satu jam.

Tentu saja ini sangat kurang. Padahal, kolostrum mengandung protein, mineral, serta vitamin A, E, dan B12. Bahkan kolostrum mengandung lebih sedikit lemak dan gula dibandingkan dengan ASI yang diproduksi pada hari-hari berikutnya.

Secara fungsional, kolostrum berperan membersihkan air empedu dan mucus (meconium) pada saluran pencernaan bayi. Ini sangat penting karena pada masa sesudah kelahiran, bayi sangat rentan terhadap infeksi dan lingkungan yang sangat baru baginya. Kolostrum juga akan menghilangkan rasa lapar pada bayi baru lahir tanpa harus disertai asupan gula atau susu formula.

Menurut Dr. Utami, ASI yang keluar pada lima menit pertama dinamakan foremilk. Komposisinya berbeda dengan ASI yang keluar kemudian atau hindmilk. Foremilk lebih encer, mengandung protein tinggi dan karbohidrat rendah.

Sementara hindmilk mengandung karbohidrat tinggi, protein rendah, dan kandungan lemaknya 4-5 kali lebih banyak dibandingkan dengan foremilk. Hindmilk inilah yang mengenyangkan bayi.

Warisan Zat Kebal
Selain mengenyangkan, kolostrum mengandung zat immunoglobulin atau kekebalan. Jenis protein yang bertugas memerangi infeksi dalam tubuh itu tidak dimiliki oleh susu hewan. Kandungan zat ini dalam kolostrum sekitar 10 hingga17 kali lebih banyak daripada di dalam ASI matang. Itu sebabkan bayi yang mendapat ASI secara optimal memiliki kekebalan tubuh 15 sampai 20 kali lebih baik.

Sebenarnya tubuh bayi sudah mulai membuat antibodi sendiri segera setelah dilahirkan. Namun, antibodi itu baru akan mencapai puncak kekuatannya pada usia bayi sembilan sampai 12 bulan.

Karena itu, ASI merupakan antibodi bantuan yang paling kuat bagi pertumbuhan awal si bayi. Terlebih lagi karena ASI ternyata mengandung berjuta-juta sel darah putih yang bermanfaat untuk membunuh kuman jahat dalam usus bayi.

Kandungan zat kekebalan ini benar-benar menakjubkan. Kekebalan tubuh ibu-ibu terhadap berbagai penyakit akan diturunkan pada bayinya lewat ASI. Seandainya ada seorang ibu mempunyai zat kekebalan terhadap lima penyakit, bayinya juga akan memperoleh warisan yang sama.

Efektivitas pemanfaatan ASI akan terasa sekali bila yang menyusui bayi itu adalah ibunya sendiri. Bila dua orang ibu melahirkan dan bayinya tertukar, ASI yang diberikan oleh keduanya tidak akan cocok walaupun tak memiliki efek samping pada bayi.

Enam Bulan Pertama
Mengingat ASI adalah makanan yang paling cocok bagi bayi, WHO menganjurkan agar selama usia 0 sampai enam bulan bayi hanya diberi ASI sebagai menu utama dan satu-satunya. Anjuran ini sangat beralasan karena selain setipe dan memiliki zat kekebalan, kandungan ASI juga bisa mencerdaskan bayi.

Di dalam ASI terdapat taurine yang sangat penting dalam proses pembentukan sel-sel otak, sel-sel saraf, dan retina. Taurine adalah asam amino yang digunakan untuk membantu penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak. Taurine juga membantu mengatur detakan jantung, menstabilkan membran sel, dan memelihara kelangsungan sel-sel otak.

Selain itu, taurine juga mengandung lemak rantai panjang. Lemak inilah cikal bakal pembentuk Arachidonic Acid (ARA) atau asam linoleat (omega-6) dan Docosa Hexaenoic Acid (DHA) atau asam alfa-linolenat (omega-3). Kedua bahan ini diketahui amat berguna dalam perkembangan sistem saraf otak dan indra penglihatan. Dr. Utami menegaskan bahwa DHA dan ARA ini tidak terdapat dalam susu sapi atau susu hewan lain.

Walaupun dalam susu formula (susu sapi yang dibuat dengan tambahan bahan lain) dikatakan dilengkapi DHA dan ARA, penyerapan pencernaan bayi tidak akan optimal, hanya sekitar 20 persen. Padahal, DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI bisa diserap oleh pencernaan bayi sebanyak 100 persen dengan bantuan enzim lipase.

Optimalnya penyerapan DHA dan ARA itu membuat perkembangan otak bayi semakin maksimal. Kecerdasannya akan terus meningkat, apalagi bila sampai usia 12 bulan ia masih diberi ASI, selain makanan tambahan lain yang bemanfaat.

Sehat Jiwa Raga
Manfaat ASI tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Efek pada kesehatan jiwa juga ada. Dr. Utami menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif merupakan bagian dari pendidikan anak. ASI tidak hanya mencerdaskan anak dari segi otak, tetapi juga hati dan spiritualitas.
Walaupun masih perlu penelitian lanjut terhadap kesimpulan itu, uraian sementara ini bisa membantu menjelaskan konsep tersebut. Saat berada dalam kandungan, bayi seolah berada dalam surga yang sungguh menyejukkan dan menenteramkan.

Air ketuban yang silih berganti karena selalu mengalami siklus bagaikan usapan lembut, rahim tempat bayi tidur melindunginya dari bahaya, detak jantung ibu bagaikan senandung merdu yang meninabobokan dia, dan napas ibu seolah ayunan yang menimangnya. Suasana ini benar-benar nyaman dan tiada duanya bagi bayi.

Sewaktu lahir, bayi benar-benar merasa terkejut dengan dunia yang lain sama sekali dengan yang ia rasakan sebelumnya. Banyak hal asing harus dihadapinya. Satu-satunya yang bisa dipercaya adalah sang ibu. Karena itu, menyusui menjadi terapi yang sangat tepat untuk mengembalikan suasana yang dirasakan bayi selama ada dalam kandungan.

Dekapan dan elusan lembut sang ibu saat menyusui membuat bayi merasa aman dan tenteram. Ketenteraman itu ikut mendukung pertumbuhan sang bayi dengan lebih baik.

“Apalagi bila sang ibu membacakan kata-kata bijak seperti dari kitab suci. Bayi akan semakin bertumbuh sesuai harapan sang ibu, menjadi anak baik dan saleh,” tutur Dr. Utami. @ Abd