| |||||||||||||||||||||||||||||
| GOLONGAN | |||||||||||||||||||||||||||||
| KANDUNGAN Tiap mL : Natrium Klorida 6,5 mg. | |||||||||||||||||||||||||||||
| INDIKASI Meringankan radang membran hidung yang terjadi saat pilek, alergi, kelembaban yang rendah, perdarahan hidung minor, penggunaan dekongestan yang berlebihan dan iritasi hidung lainnya. | |||||||||||||||||||||||||||||
| KEMASAN Tetes hidung dalam botol plastik isi 30 mL. | |||||||||||||||||||||||||||||
| DOSIS Dapat digunakan untuk anak-anakdan bayi berusia 1 bulan ke atas. Teteskan 2-3 tetes pada masing-masing lubang hidung. Dapat diulang beberapa saat kemudian. | |||||||||||||||||||||||||||||
| PENYAJIAN Tak ada pilihan | |||||||||||||||||||||||||||||
|
I want to share about a breastfeeding, baby, pregnant.. i love to be a mom's for my little baby.. if u have any question just ask me ok.. send by email nur_tadjoedin@yahoo.com
Thursday, January 28, 2010
obat untuk batuk dan pilek
BREASfeed in the al qur'an
ASI dalam AL-Qur'an (Ungkapan cinta Allah SWT)
http://parentingisl ami.wordpress. com/2009/ 01/28/asi- dalam-al- qur%e2%80%
99an-ungkapan- cinta-allah- swt/
oleh: dr. Ariani
ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus anugerah yan luar biasa
terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Di dalam Surat Cintanya,
bertebaran ayat-ayat tentang ASI. Antara lain :
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan
menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu
ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (Al-Baqarah [2]: 233
Hikmah ayat yang terkandung dalam kitab Suci Alqur'an tersebut, setidaknya
menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Walaupun masih ada perbedaan
pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi seorang
muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya hukum
menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas dianjurkan menyempurnakan masa
penyusuan. Dan di sana juga disinggung tentang peran sang ayah, untuk mencukupi
keperluan sandang dan pangan si ibu, agar si ibu dapat menuyusi dengan baik.
Sehingga jelas, menyusui adala kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang anak
sebelum waktu dua tahun harus dilakukan dengan persetujuan bersama antara suami
isteri dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Insprasi utama dari
pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada penghormatan kepada perintah
Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintahNya.
Demikian pula jika seorang ibu
tidak bisa menyusui, dan diputuskan untuk menyusukan bayinya pada wanita lain,
sehingga haknya untuk mendapat ASI tetap tertunaikan.
Rentang waktu menyusui
Ayat ini turun berkenaan dengan serangkaian ayat yang membicarakan tentang
peraturan rumah tangga. Salah satunya mendiskusikan hukum-hukum tentang
perceraian yang bertujuan melindungi hak bayi di saat hubungan pernikahan kedua
orang tuanya dalam keadaan kritis dan berpotensi mengancam kepentingan si bayi.
Karena itu, permulaan ayat ini disepakati berlaku secara umum, baik orang tua
bercerai atau tidak. Ayat tersebut menunjukkan bahwa masa sempurna menyusui
(laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang rentang waktu yan ideal
untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Allah SWT
sudah memberikan petunjuk yang syar'i berhubungan dengan periode menyusui.
Tuntunan syariat ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian
yang membuktikan bahwa 2 tahun pertama itu "The golden Age", masa yang sangat
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
Dalam keadaan daruratpun, ASI tetap harus diberikan
Hak-hak khusus ditetapkan bagi seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya
sebagai ganti dari menyusui anak-anak mereka. Sekalipun sang suami sudah
meninggal, para pewarisnya wajib memperhatikan pemenuhan hak-hak yang
diprioritaskan untuk menjaga agar anak tetap mendapatkan hak ASI-nya.
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati)
mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil,
maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika
mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya,
dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu
menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. (Q.S
At THalaq:6)
Bahkan ketika keadaan sangat darurat, seperti yang dialami Ibunda Nabi Musa A.S
yang sedang dikejar tentara fir'aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki,
Allah menganjurkan untuk tetap memberikan ASI (Q.S. Al-Qashash: 7). Dan Allah
memelihara bounding antara nabi Musa dan ibunya, dengan mencegah Nabi Musa
menyusu kepada orang lain. Sehingga Nabi Musa tetap disusui ibunya, walaupun
dalam pengawasan Fir'aun (Q.S.Al-Qhashas: 12).
Kapan seorang wanita bisa lalai menyusui anaknya? Ketika kiamat. Sebuah gambaran
tentang kuatnya ikatan menyusui seorang anak kepada bayinya yang hanya bisa
diputuskan oleh keguncangan yang maha dashyat di hari kiamat. (Q.S Al-Hajj:1-2)
. Yang harus sama-sama kita tanyakan pada saat ini, apakah saat ini keguncangan
yang dashyat sudah ada di depan seorang ibu sehingga lalai menyusui anaknya?
Hanya karena menyusui, seorang ibu 'disetarakan' dengan ibu kandung. Ini
menunjukkan pentingnya menyusui dan hukum-hukum yang kemudian berlaku. Saudara
sepersusuan menjadi mahram Q.S. An-Nisaa':23)
"Allah telah melarang hubungan yang disebabkan oleh persusuan sama seperti Dia
melarang hubungan karena pertalian darah "(HR.Tirmidzi)
Hendaklah diniatkan untuk ibadah
Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, "Janganlah
engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih
sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari
Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan
bertauhid kepada Allah Subhanahuwata'ala."
Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa, bahwa
menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting. Ini merupakan bentuk
investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang
bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."(Q.S. Luqman :14)
Ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu: pertama, adalah perintah bagi
seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun penuh. Kedua, perintah bagi
anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya karena ibunya telah merawatnya
siang dan malam. Terdapat kewajiaban anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya,
sementara terdapat hak anak untuk diberi ASI selama 2 tahun penuh. Terdapat
kewajiban ibu untuk menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, sementara
terdapat hak ibu agar anaknya berbakti kepadanya.Memang tidak berdosa apabila
sang ibu tidak bisa menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Tetapi ibu mana
yang tidak ingin menyempurnakan ibadah penyusuan bagi buah hati belahan jiwanya?
http://parentingisl ami.wordpress. com/2009/ 01/28/asi- dalam-al- qur%e2%80%
99an-ungkapan- cinta-allah- swt/
oleh: dr. Ariani
ASI adalah ungkapan kasih sayang Allah sekaligus anugerah yan luar biasa
terhadap setiap bayi yang terlahir ke muka bumi. Di dalam Surat Cintanya,
bertebaran ayat-ayat tentang ASI. Antara lain :
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi
yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan
pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan
menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban
demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan
keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu
ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu
memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan" (Al-Baqarah [2]: 233
Hikmah ayat yang terkandung dalam kitab Suci Alqur'an tersebut, setidaknya
menekankan bahwa Air Susu Ibu (ASI) sangat penting. Walaupun masih ada perbedaan
pendapat tentang wajib atau tidaknya menyusui, tapi selayaknya bagi seorang
muslim menghormati ayat-ayat Allah tersebut. Terlepas wajib atau tidaknya hukum
menyusui, dalam ayat tersebut dengan tegas dianjurkan menyempurnakan masa
penyusuan. Dan di sana juga disinggung tentang peran sang ayah, untuk mencukupi
keperluan sandang dan pangan si ibu, agar si ibu dapat menuyusi dengan baik.
Sehingga jelas, menyusui adala kerja tim. Keputusan untuk menyapih seorang anak
sebelum waktu dua tahun harus dilakukan dengan persetujuan bersama antara suami
isteri dengan mengutamakan kepentingan terbaik bagi si bayi. Insprasi utama dari
pengambilan keputusan ini harus didasarkan pada penghormatan kepada perintah
Allah dan pelaksanaan hukum-Nya, dan tidak bertujuan meremehkan perintahNya.
Demikian pula jika seorang ibu
tidak bisa menyusui, dan diputuskan untuk menyusukan bayinya pada wanita lain,
sehingga haknya untuk mendapat ASI tetap tertunaikan.
Rentang waktu menyusui
Ayat ini turun berkenaan dengan serangkaian ayat yang membicarakan tentang
peraturan rumah tangga. Salah satunya mendiskusikan hukum-hukum tentang
perceraian yang bertujuan melindungi hak bayi di saat hubungan pernikahan kedua
orang tuanya dalam keadaan kritis dan berpotensi mengancam kepentingan si bayi.
Karena itu, permulaan ayat ini disepakati berlaku secara umum, baik orang tua
bercerai atau tidak. Ayat tersebut menunjukkan bahwa masa sempurna menyusui
(laktasi) adalah 2 tahun penuh. Turunnya wahyu tentang rentang waktu yan ideal
untuk menyusui ini merupakan nikmat Allah yang tak ternilai harganya. Allah SWT
sudah memberikan petunjuk yang syar'i berhubungan dengan periode menyusui.
Tuntunan syariat ini sudah diturunkan berabad-abad sebelum ada hasil penelitian
yang membuktikan bahwa 2 tahun pertama itu "The golden Age", masa yang sangat
penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak
Dalam keadaan daruratpun, ASI tetap harus diberikan
Hak-hak khusus ditetapkan bagi seorang isteri yang diceraikan oleh suaminya
sebagai ganti dari menyusui anak-anak mereka. Sekalipun sang suami sudah
meninggal, para pewarisnya wajib memperhatikan pemenuhan hak-hak yang
diprioritaskan untuk menjaga agar anak tetap mendapatkan hak ASI-nya.
Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati)
mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil,
maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika
mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya,
dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu
menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya. (Q.S
At THalaq:6)
Bahkan ketika keadaan sangat darurat, seperti yang dialami Ibunda Nabi Musa A.S
yang sedang dikejar tentara fir'aun yang akan membunuh semua bayi laki-laki,
Allah menganjurkan untuk tetap memberikan ASI (Q.S. Al-Qashash: 7). Dan Allah
memelihara bounding antara nabi Musa dan ibunya, dengan mencegah Nabi Musa
menyusu kepada orang lain. Sehingga Nabi Musa tetap disusui ibunya, walaupun
dalam pengawasan Fir'aun (Q.S.Al-Qhashas: 12).
Kapan seorang wanita bisa lalai menyusui anaknya? Ketika kiamat. Sebuah gambaran
tentang kuatnya ikatan menyusui seorang anak kepada bayinya yang hanya bisa
diputuskan oleh keguncangan yang maha dashyat di hari kiamat. (Q.S Al-Hajj:1-2)
. Yang harus sama-sama kita tanyakan pada saat ini, apakah saat ini keguncangan
yang dashyat sudah ada di depan seorang ibu sehingga lalai menyusui anaknya?
Hanya karena menyusui, seorang ibu 'disetarakan' dengan ibu kandung. Ini
menunjukkan pentingnya menyusui dan hukum-hukum yang kemudian berlaku. Saudara
sepersusuan menjadi mahram Q.S. An-Nisaa':23)
"Allah telah melarang hubungan yang disebabkan oleh persusuan sama seperti Dia
melarang hubungan karena pertalian darah "(HR.Tirmidzi)
Hendaklah diniatkan untuk ibadah
Amru bin Abdullah pernah berkata kepada isteri yang menyusui bayinya, "Janganlah
engkau menyusui anakmu seperti hewan yang menyusui anaknya karena didorong kasih
sayangnya kepada anak. Akan tetapi susuilah dengan niat mengharap pahala dari
Allah dan agar ia hidup melalui susuanmu itu. Mudah-mudahan ia kelak akan
bertauhid kepada Allah Subhanahuwata'ala."
Subhanallah, pelajaran yang sangat berharga. Betapa mungkin kita lupa, bahwa
menyusui hendaklah diniatkan ibadah, bukan sekedar insting. Ini merupakan bentuk
investasi kita di dunia dan akhirat. Semoga anak kita menjadi anak yang
bersyukur pada Rabb-nya dan orang tuanya.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua
orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu."(Q.S. Luqman :14)
Ayat tersebut mengandung dua pengertian, yaitu: pertama, adalah perintah bagi
seorang ibu untuk menyusui anaknya selama 2 tahun penuh. Kedua, perintah bagi
anak untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya karena ibunya telah merawatnya
siang dan malam. Terdapat kewajiaban anak untuk berbuat baik kepada orangtuanya,
sementara terdapat hak anak untuk diberi ASI selama 2 tahun penuh. Terdapat
kewajiban ibu untuk menyusukan anaknya selama dua tahun penuh, sementara
terdapat hak ibu agar anaknya berbakti kepadanya.Memang tidak berdosa apabila
sang ibu tidak bisa menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Tetapi ibu mana
yang tidak ingin menyempurnakan ibadah penyusuan bagi buah hati belahan jiwanya?
Wednesday, January 20, 2010
puasa saat hamil
Puasa sudah dekat... selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya.. berikut beberapa artikel tentang menyusui dan puasa :
PUASA UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=67:puasa-hamil-menyusui&catid=18:menyusui&Itemid=29
menyusui saat puasa
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=24:menyusui-saat-puasa&catid=18:menyusui&Itemid=29
Bolehkah tidak puasa saat menyusui?
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=33:bolehkah-tidak-puasa-saat-menyusui&catid=18:menyusui&Itemid=29
semoga membantu...
PUASA UNTUK IBU HAMIL DAN MENYUSUI
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=67:puasa-hamil-menyusui&catid=18:menyusui&Itemid=29
menyusui saat puasa
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=24:menyusui-saat-puasa&catid=18:menyusui&Itemid=29
Bolehkah tidak puasa saat menyusui?
http://www.selasi.net/index.php?option=com_content&view=article&id=33:bolehkah-tidak-puasa-saat-menyusui&catid=18:menyusui&Itemid=29
semoga membantu...
Sunday, January 17, 2010
nursing laying down
It is often difficult for new moms to figure out how to comfortably lay down to breastfeed their babies. With that in mind, Kathy S. Kuhn RN BSN IBCLC and lactation consultant for Parentsplace.com shares with us how she helps new moms with this position:
1) First mom goes on her side with the breast she is going to feed from closest to the bed. So she would be laying on her right side to bf from the right breast.
2) I then show her where her nipple is and have her roll closer to the bed (more toward tummy down) and then closer to her back so she can see where her nipple is in relation to the bed. The goal is for her to see where she needs to be to get the nipple about baby mouth's height off the bed. This is usually about an inch or two off the bed and varies widely from mom to mom but I have never been unsuccessful getting a mom and baby comfortably positioned no matter their breast size.
3) Then we get the baby lined up nipple to nose on his side facing mom. Mom can then bring the baby closer until he feels the nipple on his lips and latches.
It usually works best to bring the baby closer by pulling him in by his tushy. Often b/c I work with very young babies I hold the head near the ears to help mom but older babies usually can "self latch" when the just get close enough.
It's important not to pull the baby in by the upper back b/c that often means the baby's head will flex too far back and the baby won't be comfy or be able to swallow well.
Some moms come up on their elbow to latch the baby and lay back down when latched. I keep a rolled receiving blanket handy to place at the baby's back and tushy from the neck down to prop the baby on his side.
Really snuggle the blanket up close and firmly to the baby's body to hold him well.
DO NOT prop the baby with anything behind the baby's head. Allow the baby freedom of movement of his head so he can move away if he is done bf or if his nose gets blocked.
4) Then I place a pillow behind mom's back. The trick to this is for mom to roll toward the baby and get the pillow slightly under the back so when she relaxes the pillow is supporting her back well. Mom can do the pillow herself by putting in place before getting the baby latched and then just jamming it under her back (by rolling toward the baby momentarily) after latching. Dad's can also be a big help helping to get mom positioned until mom gets more practice doing it on her own.
Mom's head should be on a separate pillow, her bottom arm(right arm if bf on right breast) should be pointing straight out so her body and arm are like an upside down letter "L". She can rest her upper arm on the baby's tushy or her own side. Be sure you are supported by pillows enough that you aren't supporting yourself all.
Variations:
Reward:
Special thanks to the mothers and babies who shared photos for this page. Please do not copy any of these photographs without express permission of the owners.
1) First mom goes on her side with the breast she is going to feed from closest to the bed. So she would be laying on her right side to bf from the right breast.
2) I then show her where her nipple is and have her roll closer to the bed (more toward tummy down) and then closer to her back so she can see where her nipple is in relation to the bed. The goal is for her to see where she needs to be to get the nipple about baby mouth's height off the bed. This is usually about an inch or two off the bed and varies widely from mom to mom but I have never been unsuccessful getting a mom and baby comfortably positioned no matter their breast size.
3) Then we get the baby lined up nipple to nose on his side facing mom. Mom can then bring the baby closer until he feels the nipple on his lips and latches.
It usually works best to bring the baby closer by pulling him in by his tushy. Often b/c I work with very young babies I hold the head near the ears to help mom but older babies usually can "self latch" when the just get close enough.
It's important not to pull the baby in by the upper back b/c that often means the baby's head will flex too far back and the baby won't be comfy or be able to swallow well.
Some moms come up on their elbow to latch the baby and lay back down when latched. I keep a rolled receiving blanket handy to place at the baby's back and tushy from the neck down to prop the baby on his side.
Really snuggle the blanket up close and firmly to the baby's body to hold him well.
DO NOT prop the baby with anything behind the baby's head. Allow the baby freedom of movement of his head so he can move away if he is done bf or if his nose gets blocked.
4) Then I place a pillow behind mom's back. The trick to this is for mom to roll toward the baby and get the pillow slightly under the back so when she relaxes the pillow is supporting her back well. Mom can do the pillow herself by putting in place before getting the baby latched and then just jamming it under her back (by rolling toward the baby momentarily) after latching. Dad's can also be a big help helping to get mom positioned until mom gets more practice doing it on her own.
Mom's head should be on a separate pillow, her bottom arm(right arm if bf on right breast) should be pointing straight out so her body and arm are like an upside down letter "L". She can rest her upper arm on the baby's tushy or her own side. Be sure you are supported by pillows enough that you aren't supporting yourself all.
Variations:
Reward:
Special thanks to the mothers and babies who shared photos for this page. Please do not copy any of these photographs without express permission of the owners.
Saturday, January 16, 2010
ayah, beri aku ASI
*/Memang, ayah tak ditakdirkan mempunyai organ fisik yang dapat
memberikan air susu (AS/) secara langsung. Namun jangan lupa, ayah
memiliki ASA./*
Memasuki masa awal pernikahan, seorang laki-Iaki dihadapkan pada sebuah
status baru dalam perjalanan hidupnya yakni menjadi seorang suami bagi
seseorang yang dicintainya. Status yang disandang tersebut juga memiliki
konsekuensi logis bagi seorang laki-Iaki bahwa ia diamanahi menjadi
seorang kepala rumah tangga yang memimpin sebuah keluarga, menjadi guru
yang mengajari ilmu kepada anggota keluarganya, bahkan menjadi ternan
berbagi yang senantiasa menemani pada saat suka maupun duka.
Perjalanan sebuah mahligai pernikahan semakin harmonis manakala suami
istri dikaruniai seorang bayi, buah cinta mereka berdua. Sebuah harapan,
curahan kasih sayang, dan segenap perasaan bahagia mengiringi
"penyambutan" datangnya anggota keluarga baru didalam kehidupan rumah
tangga.
Ada banyak proses yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri dalam
rangka merawat dan membesarkan si buah hati. Mulai dari menyusui,
memandikan, memberikan san dang, hingga melakukan pemeriksaan rutin
untuk memantau perkembangan si bayi. Diantara segenap proses tersebut,
banyak pasangan yang kurang memperhatikan proses menyusui. Seolah
menjadi stereotype, bahwa cukup istri-Iah yang bertanggung jawab atas
urusan menyusui bayi sedangkan suami hanya fokus mencari nafkah semata.
Hal tersebut memang salah besar, justru suami memegang peranan renting
disini. Meski secara lahiriah suami tidak bisa hamil dan memberi ASI,
bagaimanapun juga proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak
terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak
haruslah dilakukan bersama-sama pula.
Pemberian ASI memang memiliki banyak manfaat diantaranya dapat mendukung
perkembangan fisik dan mental anak; bagi ibu, aktivitas menyusui akan
menyehatkan reproduksinya, membuat payudara dan ovariumnya lebih
terhindar dari kanker, pendarahan setelah melahirkan juga lebih cepat
berhenti, rahimnya segera pulih, dan ia juga cepat langsing. Dengan
begitu banyak manfaat ASI eksklusif, masihkah para suami enggan membantu
istrinya untuk ikut "menyusui" bayinya-yang sering juga disebut dengan
breastfeeding father? Mestinya tidak. Dan hanya suami yang "jantan" dan
gentle saja yang berani melakukannya. Andakah itu?
Hipotesis yang menyatakan bahwa "Ayah yang mendukung praktek pemberian
ASI disamping juga memiliki pengetahuan yang baik tentang hal-hal yang
berhubungan dengan pemberian ASI, dapat menciptakan hubungan tripartit
(yaitu ayah, ibu, dan bayi) yang baik dan harmonis" telah terbukti.
Dulu, para ayah hanya dipertemukan dengan bayinya dalam keadaan sudah
bersih, wangi, dan kenyang. Sekarang, mereka harus mau turut
membersihkan, mengharumkan dan menyiapkan makanan bayi. Keadaan ini
bukan hanya salah satu konsekuensi makin banyaknya ibu yang bekerja di
luar rumah.
Menjadi "breastfeeding" father sebenarnya mudah. Hanya dengan
menggendong bayi setiap kali akan disusui dan memberikannya pada ibunya.
Sentuhan dan hangatnya pelukan Anda akan membuat bayi nyaman. Anda juga
bisa menggendong bayi saat ri leks sembari mendendangkan sebuah lagu,
sehingga bayi merasa Anda juga membantunya dalam memperoleh ASI. Di sisi
lain, istri Anda akan senang. Akhirnya terjalinlah keterikatan emosional
antara Anda, istri Anda, dan bayi Anda.
Sering-seringlah Anda menggendong bayi di depan ibunya. Denise Parker,
IBCLC-konsultan laktasi yang juga koordinator humas The Lactation
Institute and Breastfeeding
, Clinic di Encino, California, AS-dalam Dad and the Breastfed Baby
mengatakan, bayi-bayi baru lahir itu 'Lapar sentuhan manusia'. Mereka
senang didekap dekat degup jantung, merasakan permukaan kulit dan
membaui tubuh orang tuanya, mendengar suara orang tuanya, serta
merasakan gerakan dan aktivitas tubuh man usia. "Sementara ibu bisa
memenuhi segalanya lewat menyusui, ayah bisa memenuhi kebutuhan bayi
dalam banyak sekali cara yang luar biasa." tulis Denise.
Mengenai relevansi peran ayah, Judhiastuty Februhartanty seorang
staf akademik UI mengemukakan praktek inisiasi menyusui segera setelah
anak dilahirkan, dapat dipengaruhi sang ayah antara lain dengan hadir
saat proses persalinan dan mendorong inisiasi menyusui segera dengan
membantu kontak menyusui pertama kali.
Memang, ayah tak ditakdirkan mempunyai organ fisik yang dapat memberikan
air susu (ASI) secara langsung. Namun jangan lupa, ayah memiliki ASA.
Bukan kependekan dari Air Susu Ayah. Tetapi asa dalam pengertian
harapan, support dan pemberian semangat untuk kelancaran program
pemberian ASI bagi bayinya. Beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan
oleh seorang ayah untuk menyukseskan program breastfeeding father.
*
Berikan support sejak awal*
Mulailah sejak istri mengandung. Jadilah suami SIAGA (siap antar siap
jaga). Sesibuk apapun, sempatkanlah menemani istri untuk memeriksakan
kandungan. Ajaklah istri bermusyawarah dalam menentukan tempat
pemeriksaan kandungan sekaligus bidan atau dokter yang dipilih saat
persalinan nantinya. Belailah janin yang ada dalam kandungan istri.
Kontak yang harmonis sejak dini, memudahkan hangatnya interaksi pada
proses berikutnya.
Sayangnya, "ritual-ritual" sederhana seperti di atas tergusur oleh
ketidakpedulian suami. Entah karena kesibukan kerja, atau keengganan
untuk sekadar berbagi empati. Urusan hamil dan melahirkan, dalam
pandangan suami seperti itu, dianggap sebagai tugas domestik yang mutlak
menjadi tanggungjawab istri. Seolah tugas seorang suami hanya sebatas
(maaf) menghamili istri. Selebihnya, ia berkutat kembali dengan
kesibukan kerja, atau berusaha mencari kesibukan lain agar dapat
memalingkan perhatian dari janin yang dikandung istri.
Tipologi suami seperti itu memang sepakat untuk kita cela. Namun,
sadarkah, meski tak separah itu, minimnya perhatian kita terhadap istri
dan janin merupakan bukti penyelewengan
tugas dan tanggungjawab sebagai kepala rumah tangga? Jadi, . jangan
anggap remeh, meski sekadar belaian mesra atau kecupan ke perut istri.
*Ritual Tripartit*
Saat bayi menangis, jangan buru-buru 'ditangani' ibu. Sebaiknya, ayah
berinisiatif menanganinya terlebih dahulu dengan menggendongnya, baru
kemudian diberikan ke ibu untuk diberi ASI. Jadi, pemberian ASI melalui
'penanganan' ayah terlebih dahulu. Ribet?
Kalau kita sebatas berpikir teknik, memang ya. Tetapi, dengan turut
campurnya ayah secara langsung dalam pemberian ASI, dapat membuat
perasaan nyaman sang bayi. Bahwa, semua orang di sekitarnya begitu
perhatian terhadap dirinya. Sedangkan bagi sang ibu, 'ritual' semacam
itu membuat dirinya merasa senantiasa ditemani orang tercinta dalam
setiap perawatan sang bayi, buah hati mereka. Sekali lagi, ketenangan
pikiran si ibu akan membuat refleks okstosin dapat berfungsi maksimal.
Sering-sering menggendong bayi di depan ibunya-tanpa harus menunggu si
bayi minta menetekjuga dapat mengeratkan hubungan ayah, ibu dan bayi.
*Jangan Canggung Rawat Bayi*
Jangan hanya puas dengan aktivitas simbolik seperti ritual tripartit di
atas. Seorang ayah juga harus mau turun langung dalam perawatan bayi.
Mulai dari memandikan, mengganti popok, membersihkan kotoran, hingga
teknik menggendong yang senyaman mungkin. Jadi, pengetahuan tentang
tatacara perawatan bayi semacam itu juga harus menjadi pengetahuan
standar bagi seorang ayah.
Pengetahuan semacam itu dapat digali dari referensireferensi tertulis,
baik yang tersebar di internet maupun bukubuku panduan. Atau-dan ini
lebih baik-berkonsultasi langsung ke bidan atau dokter. Yang pasti,
buang jauh-jauh rasa gengsi. Tanggalkan anggapan kuno bahwa perawatan .
bayi adalah tanggungjawab mutlak si ibu saja, tanpa menyertakan peran ayah.
Jika para ayah begitu ringan tangan ikut membantu merawat bayi, terutama
saat menyusui, hati istri akan dijalari perasaan dicintai dan
diperhatikan. Ini membuat mereka senang, dan refleks oksitosin pun akan
bekerja dengan baik, sehingga ASI pun lancar mengalir.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
*/Bila ibu merasa sedih, bingung, kesal, marah akan mempengaruhi kerja
oksitosin. Artinya, peranan lingkunganlah yang memperlancar reflek
oksitosin. Yang dimaksud lingkungan adalah lingkungan terdekat ibu
terutama ayah./*
*
/Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul
emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon
. oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai
proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai
catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan
kualitas AS!. Jadi peran ayah sangat penting sekali untuk mendukung
kesuksesan proses penyusuan./*
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Dikutip dari :
Ayah, Beri Aku ASI - dr. Sunardi
memberikan air susu (AS/) secara langsung. Namun jangan lupa, ayah
memiliki ASA./*
Memasuki masa awal pernikahan, seorang laki-Iaki dihadapkan pada sebuah
status baru dalam perjalanan hidupnya yakni menjadi seorang suami bagi
seseorang yang dicintainya. Status yang disandang tersebut juga memiliki
konsekuensi logis bagi seorang laki-Iaki bahwa ia diamanahi menjadi
seorang kepala rumah tangga yang memimpin sebuah keluarga, menjadi guru
yang mengajari ilmu kepada anggota keluarganya, bahkan menjadi ternan
berbagi yang senantiasa menemani pada saat suka maupun duka.
Perjalanan sebuah mahligai pernikahan semakin harmonis manakala suami
istri dikaruniai seorang bayi, buah cinta mereka berdua. Sebuah harapan,
curahan kasih sayang, dan segenap perasaan bahagia mengiringi
"penyambutan" datangnya anggota keluarga baru didalam kehidupan rumah
tangga.
Ada banyak proses yang harus dilakukan oleh pasangan suami istri dalam
rangka merawat dan membesarkan si buah hati. Mulai dari menyusui,
memandikan, memberikan san dang, hingga melakukan pemeriksaan rutin
untuk memantau perkembangan si bayi. Diantara segenap proses tersebut,
banyak pasangan yang kurang memperhatikan proses menyusui. Seolah
menjadi stereotype, bahwa cukup istri-Iah yang bertanggung jawab atas
urusan menyusui bayi sedangkan suami hanya fokus mencari nafkah semata.
Hal tersebut memang salah besar, justru suami memegang peranan renting
disini. Meski secara lahiriah suami tidak bisa hamil dan memberi ASI,
bagaimanapun juga proses menyusui adalah proses keluarga. Bukankah anak
terlahir sebagai bagian keluarga? Jadi merawat dan mendidik anak
haruslah dilakukan bersama-sama pula.
Pemberian ASI memang memiliki banyak manfaat diantaranya dapat mendukung
perkembangan fisik dan mental anak; bagi ibu, aktivitas menyusui akan
menyehatkan reproduksinya, membuat payudara dan ovariumnya lebih
terhindar dari kanker, pendarahan setelah melahirkan juga lebih cepat
berhenti, rahimnya segera pulih, dan ia juga cepat langsing. Dengan
begitu banyak manfaat ASI eksklusif, masihkah para suami enggan membantu
istrinya untuk ikut "menyusui" bayinya-yang sering juga disebut dengan
breastfeeding father? Mestinya tidak. Dan hanya suami yang "jantan" dan
gentle saja yang berani melakukannya. Andakah itu?
Hipotesis yang menyatakan bahwa "Ayah yang mendukung praktek pemberian
ASI disamping juga memiliki pengetahuan yang baik tentang hal-hal yang
berhubungan dengan pemberian ASI, dapat menciptakan hubungan tripartit
(yaitu ayah, ibu, dan bayi) yang baik dan harmonis" telah terbukti.
Dulu, para ayah hanya dipertemukan dengan bayinya dalam keadaan sudah
bersih, wangi, dan kenyang. Sekarang, mereka harus mau turut
membersihkan, mengharumkan dan menyiapkan makanan bayi. Keadaan ini
bukan hanya salah satu konsekuensi makin banyaknya ibu yang bekerja di
luar rumah.
Menjadi "breastfeeding" father sebenarnya mudah. Hanya dengan
menggendong bayi setiap kali akan disusui dan memberikannya pada ibunya.
Sentuhan dan hangatnya pelukan Anda akan membuat bayi nyaman. Anda juga
bisa menggendong bayi saat ri leks sembari mendendangkan sebuah lagu,
sehingga bayi merasa Anda juga membantunya dalam memperoleh ASI. Di sisi
lain, istri Anda akan senang. Akhirnya terjalinlah keterikatan emosional
antara Anda, istri Anda, dan bayi Anda.
Sering-seringlah Anda menggendong bayi di depan ibunya. Denise Parker,
IBCLC-konsultan laktasi yang juga koordinator humas The Lactation
Institute and Breastfeeding
, Clinic di Encino, California, AS-dalam Dad and the Breastfed Baby
mengatakan, bayi-bayi baru lahir itu 'Lapar sentuhan manusia'. Mereka
senang didekap dekat degup jantung, merasakan permukaan kulit dan
membaui tubuh orang tuanya, mendengar suara orang tuanya, serta
merasakan gerakan dan aktivitas tubuh man usia. "Sementara ibu bisa
memenuhi segalanya lewat menyusui, ayah bisa memenuhi kebutuhan bayi
dalam banyak sekali cara yang luar biasa." tulis Denise.
Mengenai relevansi peran ayah, Judhiastuty Februhartanty seorang
staf akademik UI mengemukakan praktek inisiasi menyusui segera setelah
anak dilahirkan, dapat dipengaruhi sang ayah antara lain dengan hadir
saat proses persalinan dan mendorong inisiasi menyusui segera dengan
membantu kontak menyusui pertama kali.
Memang, ayah tak ditakdirkan mempunyai organ fisik yang dapat memberikan
air susu (ASI) secara langsung. Namun jangan lupa, ayah memiliki ASA.
Bukan kependekan dari Air Susu Ayah. Tetapi asa dalam pengertian
harapan, support dan pemberian semangat untuk kelancaran program
pemberian ASI bagi bayinya. Beberapa hal di bawah ini dapat dilakukan
oleh seorang ayah untuk menyukseskan program breastfeeding father.
*
Berikan support sejak awal*
Mulailah sejak istri mengandung. Jadilah suami SIAGA (siap antar siap
jaga). Sesibuk apapun, sempatkanlah menemani istri untuk memeriksakan
kandungan. Ajaklah istri bermusyawarah dalam menentukan tempat
pemeriksaan kandungan sekaligus bidan atau dokter yang dipilih saat
persalinan nantinya. Belailah janin yang ada dalam kandungan istri.
Kontak yang harmonis sejak dini, memudahkan hangatnya interaksi pada
proses berikutnya.
Sayangnya, "ritual-ritual" sederhana seperti di atas tergusur oleh
ketidakpedulian suami. Entah karena kesibukan kerja, atau keengganan
untuk sekadar berbagi empati. Urusan hamil dan melahirkan, dalam
pandangan suami seperti itu, dianggap sebagai tugas domestik yang mutlak
menjadi tanggungjawab istri. Seolah tugas seorang suami hanya sebatas
(maaf) menghamili istri. Selebihnya, ia berkutat kembali dengan
kesibukan kerja, atau berusaha mencari kesibukan lain agar dapat
memalingkan perhatian dari janin yang dikandung istri.
Tipologi suami seperti itu memang sepakat untuk kita cela. Namun,
sadarkah, meski tak separah itu, minimnya perhatian kita terhadap istri
dan janin merupakan bukti penyelewengan
tugas dan tanggungjawab sebagai kepala rumah tangga? Jadi, . jangan
anggap remeh, meski sekadar belaian mesra atau kecupan ke perut istri.
*Ritual Tripartit*
Saat bayi menangis, jangan buru-buru 'ditangani' ibu. Sebaiknya, ayah
berinisiatif menanganinya terlebih dahulu dengan menggendongnya, baru
kemudian diberikan ke ibu untuk diberi ASI. Jadi, pemberian ASI melalui
'penanganan' ayah terlebih dahulu. Ribet?
Kalau kita sebatas berpikir teknik, memang ya. Tetapi, dengan turut
campurnya ayah secara langsung dalam pemberian ASI, dapat membuat
perasaan nyaman sang bayi. Bahwa, semua orang di sekitarnya begitu
perhatian terhadap dirinya. Sedangkan bagi sang ibu, 'ritual' semacam
itu membuat dirinya merasa senantiasa ditemani orang tercinta dalam
setiap perawatan sang bayi, buah hati mereka. Sekali lagi, ketenangan
pikiran si ibu akan membuat refleks okstosin dapat berfungsi maksimal.
Sering-sering menggendong bayi di depan ibunya-tanpa harus menunggu si
bayi minta menetekjuga dapat mengeratkan hubungan ayah, ibu dan bayi.
*Jangan Canggung Rawat Bayi*
Jangan hanya puas dengan aktivitas simbolik seperti ritual tripartit di
atas. Seorang ayah juga harus mau turun langung dalam perawatan bayi.
Mulai dari memandikan, mengganti popok, membersihkan kotoran, hingga
teknik menggendong yang senyaman mungkin. Jadi, pengetahuan tentang
tatacara perawatan bayi semacam itu juga harus menjadi pengetahuan
standar bagi seorang ayah.
Pengetahuan semacam itu dapat digali dari referensireferensi tertulis,
baik yang tersebar di internet maupun bukubuku panduan. Atau-dan ini
lebih baik-berkonsultasi langsung ke bidan atau dokter. Yang pasti,
buang jauh-jauh rasa gengsi. Tanggalkan anggapan kuno bahwa perawatan .
bayi adalah tanggungjawab mutlak si ibu saja, tanpa menyertakan peran ayah.
Jika para ayah begitu ringan tangan ikut membantu merawat bayi, terutama
saat menyusui, hati istri akan dijalari perasaan dicintai dan
diperhatikan. Ini membuat mereka senang, dan refleks oksitosin pun akan
bekerja dengan baik, sehingga ASI pun lancar mengalir.
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
*/Bila ibu merasa sedih, bingung, kesal, marah akan mempengaruhi kerja
oksitosin. Artinya, peranan lingkunganlah yang memperlancar reflek
oksitosin. Yang dimaksud lingkungan adalah lingkungan terdekat ibu
terutama ayah./*
*
/Jika ibu merasa didukung, dicintai, dan diperhatikan, maka akan muncul
emosi positif yang akan meningkatkan produksi hormon
. oksitosin sehingga produksi ASI pun lancar. Bantulah ibu saat mulai
proses menyusui, sehingga cukup waktu baginya untuk istirahat. Sebagai
catatan, istirahat yang berkualitas pun penting untuk meningkatkan
kualitas AS!. Jadi peran ayah sangat penting sekali untuk mendukung
kesuksesan proses penyusuan./*
------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
Dikutip dari :
Ayah, Beri Aku ASI - dr. Sunardi
Wednesday, January 13, 2010
Baby Friendly Initiative statement on new breastfeeding
Sumber: http://www.babyfriendly.org.uk/items/item_detail.asp?item=620
**************
UNICEF UK Baby Friendly Initiative statement on new breastfeeding
research News item 07 January 2010
A number of newspaper articles have today reported on a Norwegian
study which has found an association between higher levels of male
hormones in pregnancy and the ability to breastfeed after birth. The
authors are reported to have extrapolated from their findings that
mothers’ ability to breastfeed is entirely down to these hormone
levels. They are also reported to have claimed that exposure to high
levels of testosterone before birth account for the differences in
health outcomes between breast and bottle fed babies. The findings of
this small study are of interest and may warrant further
investigation. However, the claims made in relation to these findings
do not account for the large differences in breastfeeding rates
between countries, with some having 99% of mothers successfully
breastfeeding. They are also contradicted by the large body of
evidence which shows that levels of successful breastfeeding can be
increased by a range of improved support interventions.
The claims made relating to the health outcomes of breastfeeding do
not account for the dose response found in many studies, which show
that babies breastfed exclusively or for longer periods have the best
overall outcomes.
The study does not account for or tally with the known mechanisms for
how breastmilk protects against illness. For example, breastmilk
contains a range of anti-infective properties including
immunoglobulins, white cells, anti-inflammatory components, enzymes
and non-antibody factors such as lactoferrin and the bifidus factor.
The body of evidence for the benefits of breastfeeding is very large
and comes from a wide range of studies into many different illnesses,
carried out by numerous researchers in many different universities.
Systematic reviews of the literature have also been carried out and
are especially useful, as they are able to eliminate weak studies and
combine the findings of all the high-quality papers in order to
demonstrate with the greatest reliability whether a protective effect
truly exists. It is important to note that there is variability in the
quality and depth of evidence in relation to some illnesses which is
why the authors of these reviews tend to call for further research to
clarify the finding. It remains the case, however, that the evidence
for the advantages of breastfeeding is strong.
The two most recent and influential reviews were carried out by the
Agency for Health and Research Quality and the World Health
Organization and are summarised below:
Ip S, et al (2007) Breastfeeding and Maternal Health Outcomes in
Developed Countries. AHRQ Publication No. 07-E007.Rockville, MD:
Agency for Healthcare Research and Quality.
This review carried out in the USA screened over 9,000 papers and used
evidence from 400. It refers only to health outcomes in developed
countries. The review found that breastfeeding is associated with a
significant reduction in the incidence of: acute otitis media,
non-specific gastroenteritis, severe lower respiratory tract
infections, atopic dermatitis, obesity, type 1 diabetes, type 2
diabetes, childhood leukaemia, sudden infant death syndrome,
necrotizing enterocolitis, maternal breast cancer and ovarian cancer.
Link.
Horta B et al (2007) Evidence on the long-term effects of breastfeeding. WHO.
This paper reports on a series of systematic reviews to assess the
effects of breastfeeding on blood pressure, diabetes and related
indicators, serum cholesterol, overweight and obesity, and
intellectual performance. It found a significant reduction in the
incidence of obesity and overweight and type 2 diabetes. It also found
that breastfed babies had lower systolic blood pressure, lower
cholesterol and better performance in intelligence tests. Link.
Although the protective effects of breastfeeding on gastroenteritis
and respiratory infections have not been questioned, attempts have
been made to dismiss these in developed countries as mere ‘tummy
upsets’ or ‘coughs and colds’, whereas in reality a reduction in
severe infection resulting in hospitalisation has been found. The
Millennium Cohort Study is a nationally representative longitudinal
study of 18,819 infants who were born in the UK in 2000-2002. Data on
infant feeding, infant health, and a range of confounding factors were
available for 15,890 healthy, singleton, term infants who were born
during this period. This study found that 53 per cent of diarrheal
hospitalisations each month could have been prevented by exclusive
breastfeeding and 31 per cent by partial breastfeeding. A total of 27
per cent of lower respiratory tract infections could have been
prevented each month by exclusive breastfeeding and 25 per cent by
partial breastfeeding. Quigley M et al (2007) Breastfeeding and
Hospitalization for diarrheal and respiratory infection in the United
Kingdom Millennium Cohort Study. The full paper can be found here.
It is important to be aware that the protective effect of
breastfeeding is stronger in relation to some illness, notably
gastroenteritis, than it is for other illnesses such as allergies.
This does not mean that there is no protective effect against those
other illnesses, rather that the risk to the bottle-fed baby is
greater for some illnesses than for others. Importantly, where the
evidence shows a slight protective effect of breastfeeding, this can
still be the result of well performed research. Therefore, to describe
the evidence as weak because of a lower degree of protection is
inaccurate and misleading. It is important to note that a small
protective effect of breastfeeding against a significant illness will
have a dramatic effect across a population.
The role of the Baby Friendly Initiative and of health professionals
is to give pregnant women and new parents the full facts about infant
feeding based on the best available evidence in an objective and
non-judgemental manner in order to allow informed decision making. We
then need to help mothers to make decisions appropriate to their
circumstances and to support them in their decision whatever that may
be.
**************
UNICEF UK Baby Friendly Initiative statement on new breastfeeding
research News item 07 January 2010
A number of newspaper articles have today reported on a Norwegian
study which has found an association between higher levels of male
hormones in pregnancy and the ability to breastfeed after birth. The
authors are reported to have extrapolated from their findings that
mothers’ ability to breastfeed is entirely down to these hormone
levels. They are also reported to have claimed that exposure to high
levels of testosterone before birth account for the differences in
health outcomes between breast and bottle fed babies. The findings of
this small study are of interest and may warrant further
investigation. However, the claims made in relation to these findings
do not account for the large differences in breastfeeding rates
between countries, with some having 99% of mothers successfully
breastfeeding. They are also contradicted by the large body of
evidence which shows that levels of successful breastfeeding can be
increased by a range of improved support interventions.
The claims made relating to the health outcomes of breastfeeding do
not account for the dose response found in many studies, which show
that babies breastfed exclusively or for longer periods have the best
overall outcomes.
The study does not account for or tally with the known mechanisms for
how breastmilk protects against illness. For example, breastmilk
contains a range of anti-infective properties including
immunoglobulins, white cells, anti-inflammatory components, enzymes
and non-antibody factors such as lactoferrin and the bifidus factor.
The body of evidence for the benefits of breastfeeding is very large
and comes from a wide range of studies into many different illnesses,
carried out by numerous researchers in many different universities.
Systematic reviews of the literature have also been carried out and
are especially useful, as they are able to eliminate weak studies and
combine the findings of all the high-quality papers in order to
demonstrate with the greatest reliability whether a protective effect
truly exists. It is important to note that there is variability in the
quality and depth of evidence in relation to some illnesses which is
why the authors of these reviews tend to call for further research to
clarify the finding. It remains the case, however, that the evidence
for the advantages of breastfeeding is strong.
The two most recent and influential reviews were carried out by the
Agency for Health and Research Quality and the World Health
Organization and are summarised below:
Ip S, et al (2007) Breastfeeding and Maternal Health Outcomes in
Developed Countries. AHRQ Publication No. 07-E007.Rockville, MD:
Agency for Healthcare Research and Quality.
This review carried out in the USA screened over 9,000 papers and used
evidence from 400. It refers only to health outcomes in developed
countries. The review found that breastfeeding is associated with a
significant reduction in the incidence of: acute otitis media,
non-specific gastroenteritis, severe lower respiratory tract
infections, atopic dermatitis, obesity, type 1 diabetes, type 2
diabetes, childhood leukaemia, sudden infant death syndrome,
necrotizing enterocolitis, maternal breast cancer and ovarian cancer.
Link.
Horta B et al (2007) Evidence on the long-term effects of breastfeeding. WHO.
This paper reports on a series of systematic reviews to assess the
effects of breastfeeding on blood pressure, diabetes and related
indicators, serum cholesterol, overweight and obesity, and
intellectual performance. It found a significant reduction in the
incidence of obesity and overweight and type 2 diabetes. It also found
that breastfed babies had lower systolic blood pressure, lower
cholesterol and better performance in intelligence tests. Link.
Although the protective effects of breastfeeding on gastroenteritis
and respiratory infections have not been questioned, attempts have
been made to dismiss these in developed countries as mere ‘tummy
upsets’ or ‘coughs and colds’, whereas in reality a reduction in
severe infection resulting in hospitalisation has been found. The
Millennium Cohort Study is a nationally representative longitudinal
study of 18,819 infants who were born in the UK in 2000-2002. Data on
infant feeding, infant health, and a range of confounding factors were
available for 15,890 healthy, singleton, term infants who were born
during this period. This study found that 53 per cent of diarrheal
hospitalisations each month could have been prevented by exclusive
breastfeeding and 31 per cent by partial breastfeeding. A total of 27
per cent of lower respiratory tract infections could have been
prevented each month by exclusive breastfeeding and 25 per cent by
partial breastfeeding. Quigley M et al (2007) Breastfeeding and
Hospitalization for diarrheal and respiratory infection in the United
Kingdom Millennium Cohort Study. The full paper can be found here.
It is important to be aware that the protective effect of
breastfeeding is stronger in relation to some illness, notably
gastroenteritis, than it is for other illnesses such as allergies.
This does not mean that there is no protective effect against those
other illnesses, rather that the risk to the bottle-fed baby is
greater for some illnesses than for others. Importantly, where the
evidence shows a slight protective effect of breastfeeding, this can
still be the result of well performed research. Therefore, to describe
the evidence as weak because of a lower degree of protection is
inaccurate and misleading. It is important to note that a small
protective effect of breastfeeding against a significant illness will
have a dramatic effect across a population.
The role of the Baby Friendly Initiative and of health professionals
is to give pregnant women and new parents the full facts about infant
feeding based on the best available evidence in an objective and
non-judgemental manner in order to allow informed decision making. We
then need to help mothers to make decisions appropriate to their
circumstances and to support them in their decision whatever that may
be.
Subscribe to:
Posts (Atom)